RADARBANYUWANGI.ID - Kampus Untag 1945 Banyuwangi menggelar refleksi HUT ke-80 Kemerdekaan RI, Sabtu (16/8).
Sehari jelang detik-detik peringatan Kemerdekaan RI, Ketua Perkumpulan Gema Pendidikan Nasional 17 Agustus 1945 (Perpenas) Sugihartoyo mengumpulkan para pejabat struktural, dosen, dewan penasihat Untag, pengurus Perpenas, sesepuh, dan guru di bawah naungan Perpenas.
Acara tersebut dikemas dalam refleksi kemerdekaan yang mengusung tema ”Merajut Kebersamaan, Menjaga Warisan Perjuangan”.
Untuk mewujudkan tema tersebut, Sugihartoyo menginginkan Untag Banyuwangi memiliki mimpi dan imajinasi yang besar dalam membangun kebersamaan.
Kebersamaan bisa terwujud jika masyarakatnya bersikap humanis, tak ada lagi yang mementingkan diri sendiri dan golongan.
”Kalau kita punya rasa kemanusiaan yang tinggi, kebersamaan itu pasti akan terwujud. Untag didirikan mulai tahun 1966. Dari yang dulunya minus, kini Untag bisa berdiri megah seperti sekarang. Meski banyak kampus-kampus baru di Banyuwangi, Untag tetap punya mimpi yang terdepan dalam hal kebersamaan,’’ kata Sugihartoyo di hadapan para peserta refleksi kemerdekaan yang berlangsung di ruang Adi Kardono.
Dalam kesempatan itu, Sugihartoyo juga menyinggung masalah demokrasi yang cocok diterapkan di Indonesia.
Diakui Sugihartoyo, demokrasi yang diterapkan di Indonesia sekarang ini, masih belum sempurna dan belum matang. Dia lantas mencontohkan, di negara China punya aturan soal pendidikan.
Anak-anak di sana, kata dia, bermain handphone dalam sehari dibatasi empat jam. Lebih dari itu, pemerintah pusat yang akan mematikan jaringan internet.
”Bagaimana dengan orang Indonesia. Saat ini, semua orang Indonesia sangat tergantung pada gadget. Itu yang harus diwaspadai. Lalu bagaimana kita mempersiapkan diri dalam menyambut Indonesia Emas Tahun 2045 mendatang?. Bisa nggak dengan tantangan zaman yang serba disruption seperti sekarang, kita menjadikan Untag bisa bersaing di level global? Karena itu, untuk mencapai ke sana, harus ada team work dan kebersamaan yang baik,’’ tegas Sugihartoyo.
Sugihartoyo juga berpesan kepada peserta refleksi jangan sekali-kali meninggalkan jasa para founding fathers di Indonesia.
Negara Indonesia bisa seperti sekarang berkat jasa para pendiri bangsa. Untag Banyuwangi, lanjut dia, bisa berdiri kokoh seperti sekarang tak lepas dari jasa 17 pendiri Untag pada Tahun 1966.
”Angka 17 itu sakral bagi Untag karena didirikan oleh 17 tokoh yang bukan homogin. Untag didirikan oleh para tokoh yang berasal dari lintas agama yang berbeda-beda dan organisasi yang berbeda. Meski demikian, mereka memiliki satu tujuan utama, yaitu ingin mencerdaskan kehidupan bangsa,’’ paparnya.
Di akhir refleksi, Sugihartoyo meminta kepada semua lini tidak perlu takut bermimpi memiliki imajinasi membesarkan Untag Banyuwangi. Sebab, usia Untag sudah cukup lama dibanding kampus lain di Banyuwangi.
”Dan memang sudah seharusnya Untag menjadi yang nomor satu,’’ tegasnya. (aif)
Editor : Ali Sodiqin