RADARBANYUWANGI.ID - Tradisi Rebo Wekasan adalah salah satu warisan budaya yang masih rutin dijalankan di berbagai daerah Indonesia, terutama di Jawa, Madura, dan Banten.
Jatuh setiap Rabu terakhir bulan Safar, tradisi ini dipercaya sebagai momen untuk berdoa agar terhindar dari musibah.
Biasanya diisi dengan doa bersama, sedekah, mandi di sumber air, hingga ziarah makam leluhur sebagai bentuk memohon perlindungan.
Sekarang, melestarikan Rebo Wekasan sudah tak semudah dulu. Arus globalisasi, gaya hidup yang serba cepat, dan dominasi teknologi membuat sebagian anak muda jarang ikut langsung dalam ritualnya.
Apalagi, banyak yang lebih sibuk dengan urusan sekolah, kerja, atau main gadget. Tapi, di sisi lain, ada juga komunitas dan organisasi pemuda yang justru melihat ini sebagai peluang.
Mereka mulai mengembangkan Rebo Wekasan dengan cara kreatif, memadukan seni modern dengan budaya lokal, sampai memanfaatkan media sosial, supaya tradisi ini tetap seru, dekat, dan relevan di hati generasi sekarang.
Salah satu cara yang cukup terlihat adalah lewat media sosial. Anak muda sekarang seringkali upload foto dan video prosesi Rebo Wekasan di Instagram, TikTok, atau YouTube.
Tak hanya jadi dokumentasi untuk sebuah kenangan, tapi juga jadi promosi budaya yang bisa nyebar luas, bahkan sampai ke orang-orang yang sebelumnya belum pernah dengar soal tradisi ini.
Selain itu, Rebo Wekasan sekarang juga sering dibawa ke event budaya daerah. Seperti di daerah Pekalongan misalnya, pemerintah bersama karang taruna membuat kirab budaya, lomba masak makanan khas Rebo Wekasan, sampai pameran kerajinan.
Anak muda nggak cuma datang sebagai penonton atau peserta, tapi juga ikut jadi panitia.
Jadi, mereka nggak cuma kenal tradisinya, tapi juga merasa punya andil langsung dalam menjaga dan meramaikannya.
Tak mau ketinggalan di dunia kuliner. Mereka membuat ulang makanan khas Rebo Wekasan seperti ketupat, apem, dan bubur merah putih, lalu dibagi-bagikan ke tetangga dengan menceritakan soal makna simboliknya. Suasananya jadi hangat, apalagi kalau sambil kumpul bareng.
Di Gresik, tradisi ini malah berkembang lebih jauh jadi pasar rakyat yang meriah, melibatkan banyak pelaku UMKM lokal.
Jadi, selain menjaga warisan budaya tetap hidup, kegiatan ini juga bikin roda ekonomi warga berputar dan suasana kampung makin ramai.
Kerja sama antara generasi tua dan muda menjadi salah satu kunci agar Rebo Wekasan tetap bertahan.
Anak-anak muda bisa belajar langsung dari para sesepuh desa tentang doa, tata cara ritual, sampai cerita sejarahnya.
Di sisi lain, orang-orang tua juga tak menutup diri dan memberi kebebasan untuk anak muda berkreasi mengemas acara dengan sentuhan baru.
Perpaduan pengetahuan lama dan ide segar ini membuat tradisi tetap hidup, berkembang, dan nggak kehilangan makna aslinya meski zaman terus berubah.
Jadi, menjaga Rebo Wekasan di era sekarang butuh kerja sama antara nilai-nilai tradisi dan sentuhan kreatif ala zaman modern.
Selama anak muda masih sadar kalau tradisi ini bagian dari jati diri dan cara untuk mempererat kebersamaan, Rebo Wekasan bakal terus hidup.
Tak hanya jadi ritual setahun sekali, tapi juga jadi warisan budaya yang tetap keren dan punya arti di setiap generasi.
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin