RADARBANYUWANGI.ID - Pariwisata Indonesia sedang bergerak ke arah yang lebih bijak dan berdampak.
Dari yang sebelumnya hanya menekankan aspek keberlanjutan (sustainable tourism), kini berkembang ke pendekatan baru yang dikenal sebagai pariwisata regeneratif.
Intinya, wisatawan dan pelaku wisata nggak cuma diajak buat “jangan merusak”, tapi juga ikut bantu memperbaiki alam dan ngangkat budaya lokal.
Jadi, liburan bukan cuma seru-seruan, tapi juga bikin dampak baik buat tempat yang dikunjungi.
Pariwisata berkelanjutan biasanya fokusnya menjaga supaya dampak negatif dari kegiatan wisata bisa ditekan sekecil mungkin, misalnya dengan mengurangi sampah, hemat air, atau pakai energi ramah lingkungan, maka pariwisata regeneratif justru melangkah lebih jauh.
Tujuan utamanya bukan cuma supaya alam tetap terjaga, tapi supaya setiap aktivitas wisata justru bisa memberi dampak positif buat lingkungan dan masyarakat setempat.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif lagi gencar banget mendorong konsep pariwisata regeneratif lewat kampanye berjudul #KeepTheWonder.
Nah, programnya sendiri seru banget karena ngelibatin hal-hal seperti nanam mangrove dan pohon bareng wisatawan, jadi bisa healing sambil bantu bumi. Kurangi sampah plastik lewat berbagai kegiatan sadar lingkungan.
Dukung UMKM dan budaya lokal, misalnya belanja produk handmade, nonton pertunjukan tradisional, atau ikut workshop batik dan tenun.
Platform wisata digital Atourin juga nggak mau ketinggalan dalam gerakan pariwisata regeneratif.
Di tahun 2024, mereka resmi meluncurkan program keren bernama ARTI (Atourin Regenerative Tourism Initiative).
Lewat program ini, Atourin nggabungin teknologi, edukasi, dan semangat kolaborasi bareng komunitas lokal supaya wisata makin berdampak positif.
1. ARTI Knowledge: Kampanye edukatif melalui media sosial dan pelatihan.
2. ARTI Fund: Dana sosial untuk penanaman pohon, rehabilitasi ekosistem, dan dukungan desa wisata.
3. ARTI Event: Event lapangan seperti maraton regeneratif dan showcase komunitas lokal.
4. ARTI Community: Jaringan pelaku wisata, komunitas, dan pegiat lingkungan.
Contoh nyata dilapangan:
1. Wisata Dompak Berdampak – Bintan
Kegiatan seru bareng Bumi Journey, Grab, dan Benih Baik. Wisatawan diajak nanam mangrove, ikut tur edukatif, dan belanja di UMKM lokal.
Liburan sambil bikin dampak positif langsung ke lingkungan dan warga setempat.
2. Astungkara Way – Bali
Trekking sejauh 74 mil yang gabungin alam, pertanian organik, dan budaya Bali. Bisa tanam padi, belajar bikin kompos, sampai ikut upacara adat. Nggak cuma healing, tapi juga meaningful!
Pariwisata regeneratif ngajak kita jadi wisatawan aktif, nggak cuma datang, lihat, dan selfie, tapi juga ikut jaga alam dan bantu warga lokal.
Dengan kekayaan alam dan budaya yang kita punya, Indonesia bisa banget jadi contoh dunia buat wisata yang bikin baik, bukan rusak.
Kerennya, ini bukan lagi sekadar wacana. Lewat kolaborasi pemerintah, pelaku wisata, dan masyarakat, gerakan ini udah nyata di banyak daerah.
Sekarang tinggal kita: mau jadi wisatawan yang ninggalin jejak baik, atau jejak masalah?
Penulis: Ratna Yulia Amarta Putri | Magang Jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin