RADARBANYUWANGI.ID – Di antara deretan pahlawan nasional, nama Tjut Meutia menempati tempat istimewa.
Sosoknya tidak hanya tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga diabadikan pada uang kertas seribu rupiah yang beredar di seluruh Indonesia.
Wajahnya menjadi simbol keberanian dan pengorbanan seorang perempuan dalam perjuangan kemerdekaan.
Tjut Meutia lahir pada tahun 1870 di Keureutoe, Aceh Utara. Sejak muda, ia dikenal memiliki semangat juang tinggi.
Kehidupannya berubah ketika menikah dengan Teuku Cik Tunong, seorang pemimpin perlawanan terhadap kolonial Belanda di Aceh.
Bersama sang suami, Tjut Meutia terjun langsung membantu perjuangan rakyat melawan kekuasaan asing yang ingin menguasai tanah kelahirannya.
Perlawanan yang dipimpin oleh Cik Tunong berhasil merepotkan pasukan Belanda. Tjut Meutia tidak hanya berperan sebagai pendukung, tetapi juga ikut memimpin pasukan, mengatur strategi, dan memotivasi para pejuang. Keberaniannya membuatnya disegani, baik oleh kawan maupun lawan.
Tragedi datang ketika Cik Tunong tertangkap dan dieksekusi oleh Belanda pada 1905. Kehilangan sang suami tidak membuat Tjut Meutia menyerah.
Ia melanjutkan perjuangan bersama Pang Nanggroe, salah satu sahabat dekat suaminya, untuk mempertahankan tanah Aceh dari penjajahan.
Dalam memimpin perlawanan, Tjut Meutia menggunakan taktik gerilya yang memanfaatkan pengetahuan medan lokal.
Pasukannya sering memukul mundur tentara Belanda meski dalam jumlah yang jauh lebih sedikit. Keberanian dan keteguhan hatinya menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di Aceh.
Namun, pada 24 Oktober 1910, perjuangan Tjut Meutia mencapai akhir. Ia gugur dalam pertempuran melawan pasukan Belanda di hutan Paya Cicem, Aceh.
Meski kalah jumlah, ia memilih melawan sampai napas terakhir daripada menyerah kepada penjajah.
Penghargaan atas jasanya datang puluhan tahun kemudian. Pada 2 Mei 1964, pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional.
Wajahnya mulai menghiasi uang kertas seribu rupiah sejak emisi 2016, menggantikan gambar Kapal Pinisi. Keputusan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap kontribusinya dalam sejarah bangsa.
Tjut Meutia bukan hanya simbol perlawanan, tetapi juga bukti bahwa perjuangan kemerdekaan tidak mengenal batas gender.
Sosoknya mengingatkan generasi sekarang bahwa keberanian, keteguhan, dan pengorbanan adalah nilai yang harus terus dijaga untuk mempertahankan kemerdekaan.
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin