RADARBANYUWANGI.ID – Pendidikan literasi keuangan sudah mulai dikenalkan sejak usia sekolah.
Mulai dari pelajaran ekonomi dasar, praktik menabung di koperasi, hingga simulasi wirausaha di sekolah.
Namun, maraknya kasus pelajar terlibat pinjaman online ilegal, investasi bodong, bahkan perjudian digital, menimbulkan pertanyaan: apakah literasi keuangan selama ini hanya sebatas teori?
Fakta di lapangan menunjukkan masih rendahnya pemahaman pelajar tentang cara mengelola uang secara bijak.
Banyak yang tergiur tawaran instan melalui aplikasi pinjaman tanpa jaminan, tanpa benar-benar memahami risiko dan bunga berlipat di baliknya.
Bahkan di beberapa daerah, siswa SMP dan SMA dilaporkan menggadaikan barang pribadi demi bisa membeli voucher judi online atau top-up game.
Literasi keuangan seharusnya tidak hanya diajarkan dalam bentuk hafalan definisi, tapi juga melalui pendekatan yang kontekstual.
Misalnya, melalui studi kasus nyata, pemanfaatan teknologi edukatif, dan keterlibatan siswa dalam pengelolaan uang saku mereka sendiri.
Dengan begitu, pelajar tidak hanya tahu definisi "anggaran" atau "investasi", tetapi mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tantangan lainnya adalah arus informasi di media sosial yang justru banyak menampilkan gaya hidup konsumtif.
Influencer muda yang memamerkan barang mahal dan mobil mewah bisa menjadi tekanan sosial bagi pelajar, mendorong mereka melakukan tindakan impulsif, termasuk mencari uang dengan cara yang salah.
Program edukasi literasi keuangan juga harus menyasar pelajar di daerah yang kurang mendapat akses informasi.
Tidak semua sekolah memiliki fasilitas memadai untuk menggelar pelatihan keuangan berbasis digital. Ini memperlebar kesenjangan pemahaman finansial antara pelajar di kota besar dan di pelosok.
Orang tua dan guru memegang peran penting dalam membentuk kebiasaan finansial sehat. Bukan hanya memberikan nasihat, tapi juga menjadi contoh dalam mengelola keuangan rumah tangga dengan bijak.
Bahkan, melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan sederhana bisa menjadi edukasi langsung yang efektif.
Dengan kompleksnya tantangan finansial digital masa kini, sudah saatnya literasi keuangan di sekolah direvisi menjadi lebih praktis dan relevan.
Supaya pelajar tak hanya "melek uang", tapi juga "melek resiko" dalam mengambil keputusan ekonomi sejak dini.
Penulis: Devi Fathihatul Asliha | magang jurnalistik Radar Banyuwangi
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Ali Sodiqin