RADARBANYUWANGI.ID – Ketika pengumuman penerima insentif dirilis, tidak sedikit guru yang terpaksa menelan kecewa.
Bukan karena mereka tak layak, tapi karena data mereka belum sesuai atau tak terverifikasi.
Inilah mengapa pembaruan data Dapodik menjadi krusial, satu kesalahan kecil saja bisa membuat hak mereka sirna.
Padahal di ruang kelas, guru Non ASN memiliki beban dan tanggung jawab yang tak berbeda dengan guru berstatus PNS.
Mereka mengajar, membimbing, bahkan menjadi ujung tombak pendidikan di daerah terpencil, namun penghasilan mereka kerap tak mencerminkan pengorbanan yang diberikan.
Salah satu langkah yang kini ditempuh pemerintah adalah memberi insentif sebagai bentuk apresiasi.
Dana tambahan ini bukan sekadar angka di rekening, tapi simbol bahwa jerih payah mereka diakui dan dihargai.
Pemerintah melalui Kemendikdasmen pun telah menetapkan sejumlah kriteria agar penyalurannya tepat sasaran.
Insentif guru Non ASN bersifat temporer dan diberikan secara berkala. Penerima harus memenuhi sejumlah syarat administratif seperti tercatat di Dapodik, aktif mengajar, dan tidak menerima tunjangan profesi.
Meski tidak permanen, keberadaan bantuan ini memberi harapan bagi ribuan guru yang menggantungkan hidup dari dunia pendidikan.
Namun di balik angka dan data, tersimpan cerita tentang guru-guru yang terus mengabdi dengan sabar dan setia.
Seperti Pak Roni di pelosok Sumatera, atau Bu Nia yang puluhan tahun mengajar tanpa pernah diangkat menjadi ASN. Mereka mengandalkan hati dan dedikasi, bukan status.
Insentif bukanlah solusi akhir, namun ini adalah permulaan. Ketika negara hadir meski sebatas insentif berkala, ada harapan yang menyala dalam batin para guru nonpegawai negeri.
Mereka bukan hanya layak diapresiasi, mereka layak diperjuangkan. (*)
Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News
Editor : Lugas Rumpakaadi