Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tak Sekadar Tradisi, Puasa Mutih Dianggap Ibadah Sunnah Penuh Makna! Ini Tata Cara, Niat, dan Pantangannya

Bayu Shaputra • Kamis, 31 Juli 2025 | 15:00 WIB
Seorang pria sedang menjalani puasa mutih.
Seorang pria sedang menjalani puasa mutih.

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah meningkatnya kesadaran spiritual masyarakat, puasa mutih kembali mendapat perhatian.

Bukan hanya sebagai tradisi leluhur Jawa, puasa ini kini juga dikenal sebagai salah satu ibadah sunnah yang sarat nilai spiritual dalam perspektif Islam dan budaya Kejawen.

Disebut juga sebagai “puasa putih”, amalan ini memiliki aturan unik: hanya mengonsumsi makanan dan minuman yang berwarna putih.

Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, puasa mutih diyakini melatih kedisiplinan batin, membersihkan jiwa, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Niat “Mutih” karena Allah

Dalam praktik Kejawen yang berpadu dengan nilai Islam, niat menjadi elemen utama. Berikut contoh niat puasa mutih yang umum digunakan:

“Niat ingsun puasa mutih kerno Allah Ta’ala.”

Niat ini sebaiknya dibaca pada malam hari sebelum puasa dimulai, dan harus dilandasi dengan keikhlasan dan tekad untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Tata Cara Puasa Mutih

1. Persiapan Mental dan Spiritualitas

Sebelum mulai, pelaksana dianjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, serta membaca Al-Qur’an agar jiwa tenang dan niat semakin kuat.

2. Waktu Pelaksanaan

Puasa mutih dapat dilakukan kapan saja, namun biasanya dipilih pada hari-hari seperti Senin-Kamis, atau pada hari-hari keramat dalam kalender Jawa. Durasi bervariasi—mulai dari 3, 7, 40 hingga 100 hari—sesuai kebutuhan rohani dan kekuatan fisik pelaku.

3. Sahur dan Berbuka

Hanya makanan putih yang diperbolehkan: nasi putih, air putih, susu putih, singkong rebus, ubi putih, dan kelapa muda.

Tidak boleh ada bumbu berwarna, santan, garam, gula merah, atau kecap. Minuman seperti teh, kopi, jus, dan soda termasuk pantangan.

Larangan dalam Puasa Mutih

1. Pantangan Makanan

Segala bentuk makanan/minuman berwarna, mengandung bumbu atau pemanis harus dihindari. Prinsipnya: semakin sederhana, semakin suci.

2. Pantangan Perilaku

Puasa ini juga menuntut kebersihan lisan dan sikap. Dilarang marah, berkata kotor, dan melakukan hal sia-sia. Tujuannya adalah menyucikan batin, bukan sekadar menahan lapar.

3. Pantangan Aktivitas

Hindari begadang tanpa tujuan, menonton tayangan yang tidak bermanfaat, atau aktivitas yang melemahkan energi spiritual. Disarankan mengganti dengan dzikir, tafakur, atau wirid.

Manfaat Spiritual yang Luar Biasa

Membersihkan Jiwa

Puasa mutih menjadi sarana mendalam untuk membersihkan hati dari sifat-sifat negatif, seperti iri, dengki, dan kesombongan.

Kejernihan Pikiran

Banyak pelaku melaporkan peningkatan fokus, kejernihan berpikir, bahkan inspirasi datang di tengah kesunyian puasa mutih.

Meningkatkan Rasa Syukur

Kesederhanaan membuat pelaku lebih menghargai nikmat Allah, dan membuka pintu empati terhadap sesama.

Mendekatkan Diri kepada Allah

Dengan ibadah yang ikhlas dan penuh kesadaran, pelaku merasa lebih dekat kepada Allah dan lebih damai dalam menjalani hidup.

Tips Sukses Menjalankan Puasa Mutih

Mutih: Puasa Sunah yang Menyentuh Dimensi Jiwa

Bagi masyarakat Jawa, puasa mutih bukan ritual kosong, melainkan perjalanan batin yang membuka kesadaran akan makna hidup.

Di tengah derasnya godaan dunia, mutih hadir sebagai pengingat akan pentingnya kembali pada kesucian niat, sederhana dalam hidup, dan berserah diri pada kehendak Ilahi. ***


Editor : Ali Sodiqin
#niat #puasa mutih #tata cara #Pantangan