RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah meningkatnya kesadaran spiritual masyarakat, puasa mutih kembali mendapat perhatian.
Bukan hanya sebagai tradisi leluhur Jawa, puasa ini kini juga dikenal sebagai salah satu ibadah sunnah yang sarat nilai spiritual dalam perspektif Islam dan budaya Kejawen.
Disebut juga sebagai “puasa putih”, amalan ini memiliki aturan unik: hanya mengonsumsi makanan dan minuman yang berwarna putih.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, puasa mutih diyakini melatih kedisiplinan batin, membersihkan jiwa, serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.
Niat “Mutih” karena Allah
Dalam praktik Kejawen yang berpadu dengan nilai Islam, niat menjadi elemen utama. Berikut contoh niat puasa mutih yang umum digunakan:
“Niat ingsun puasa mutih kerno Allah Ta’ala.”
Niat ini sebaiknya dibaca pada malam hari sebelum puasa dimulai, dan harus dilandasi dengan keikhlasan dan tekad untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Tata Cara Puasa Mutih
1. Persiapan Mental dan Spiritualitas
Sebelum mulai, pelaksana dianjurkan memperbanyak dzikir, istighfar, serta membaca Al-Qur’an agar jiwa tenang dan niat semakin kuat.
2. Waktu Pelaksanaan
Puasa mutih dapat dilakukan kapan saja, namun biasanya dipilih pada hari-hari seperti Senin-Kamis, atau pada hari-hari keramat dalam kalender Jawa. Durasi bervariasi—mulai dari 3, 7, 40 hingga 100 hari—sesuai kebutuhan rohani dan kekuatan fisik pelaku.
3. Sahur dan Berbuka
Hanya makanan putih yang diperbolehkan: nasi putih, air putih, susu putih, singkong rebus, ubi putih, dan kelapa muda.
Tidak boleh ada bumbu berwarna, santan, garam, gula merah, atau kecap. Minuman seperti teh, kopi, jus, dan soda termasuk pantangan.
Larangan dalam Puasa Mutih
1. Pantangan Makanan
Segala bentuk makanan/minuman berwarna, mengandung bumbu atau pemanis harus dihindari. Prinsipnya: semakin sederhana, semakin suci.
2. Pantangan Perilaku
Puasa ini juga menuntut kebersihan lisan dan sikap. Dilarang marah, berkata kotor, dan melakukan hal sia-sia. Tujuannya adalah menyucikan batin, bukan sekadar menahan lapar.
3. Pantangan Aktivitas
Hindari begadang tanpa tujuan, menonton tayangan yang tidak bermanfaat, atau aktivitas yang melemahkan energi spiritual. Disarankan mengganti dengan dzikir, tafakur, atau wirid.
Manfaat Spiritual yang Luar Biasa
Membersihkan Jiwa
Puasa mutih menjadi sarana mendalam untuk membersihkan hati dari sifat-sifat negatif, seperti iri, dengki, dan kesombongan.
Kejernihan Pikiran
Banyak pelaku melaporkan peningkatan fokus, kejernihan berpikir, bahkan inspirasi datang di tengah kesunyian puasa mutih.
Meningkatkan Rasa Syukur
Kesederhanaan membuat pelaku lebih menghargai nikmat Allah, dan membuka pintu empati terhadap sesama.
Mendekatkan Diri kepada Allah
Dengan ibadah yang ikhlas dan penuh kesadaran, pelaku merasa lebih dekat kepada Allah dan lebih damai dalam menjalani hidup.
Tips Sukses Menjalankan Puasa Mutih
- Persiapkan menu putih yang bergizi agar tidak bosan
- Konsultasikan ke dokter bila punya masalah kesehatan
- Jaga hidrasi: minum cukup air saat sahur dan berbuka
- Lakukan ibadah pendukung seperti salat malam dan membaca Al-Qur’an
- Tanamkan niat bahwa ini bukan sekadar diet, melainkan tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa)
Mutih: Puasa Sunah yang Menyentuh Dimensi Jiwa
Bagi masyarakat Jawa, puasa mutih bukan ritual kosong, melainkan perjalanan batin yang membuka kesadaran akan makna hidup.
Di tengah derasnya godaan dunia, mutih hadir sebagai pengingat akan pentingnya kembali pada kesucian niat, sederhana dalam hidup, dan berserah diri pada kehendak Ilahi. ***
- Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News