Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bukan Desa Wisata, Tapi Gintangan Buktikan Bisa Mandiri Lewat Anyaman Bambu dan UMKM

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Jumat, 25 Juli 2025 | 15:13 WIB
Kades Hardiyono memaparkan beragam potensi Desa Gintangan dalam podcast yang ditayangkan di channel Youtube Radar Banyuwangi Kamis (24/7).
Kades Hardiyono memaparkan beragam potensi Desa Gintangan dalam podcast yang ditayangkan di channel Youtube Radar Banyuwangi Kamis (24/7).

RADARBANYUWANGI.ID - Desa Gintangan, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, tumbuh sebagai desa dengan identitas ekonomi yang kuat.

Tidak hanya dikenal sebagai sentra kerajinan anyaman bambu, berbagai potensi lokal lain yang dimiliki desa tersebut mampu dimanfaatkan dengan baik untuk menggerakkan perekonomian warga setempat.

Kepala Desa (Kades) Gintangan Hardiyono mengungkapkan, desa yang dia pimpin memang bukanlah desa yang memiliki kekayaan alam berlimpah. Namun potensi yang dimiliki di desa tersebut sangat beragam.

“Gintangan memang bukan desa wisata alam, tapi kami punya budaya dan tradisi yang bisa diberdayakan. Salah satunya melalui kerajinan bambu,” ujarnya dalam bincang ekslusif yang ditayangkan di kanal Youtube Radar Banyuwangi, Kamis (24/7).

Kerajinan anyaman bambu di Gintangan telah menjadi denyut ekonomi desa. Dari tangan para perajin lahirlah beragam produk seperti tas, hiasan rumah, hingga kostum unik untuk Gintangan Bamboo Festival (GBF) yang kini menjadi magnet ekonomi sekaligus budaya.

Festival itu bukan sekadar pertunjukan seni, tapi juga momentum warga untuk menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah.

“UMKM Gintangan makin hidup berkat GBF. Setiap tahun penjualannya naik, bahkan banyak pembeli dari luar daerah,” jelas Hardiyono.

Tidak hanya bambu, Gintangan juga dikenal sebagai penghasil gula merah berkualitas dari Dusun Kedungagung. Gintangan juga memiliki beberapa kuliner lokal seperti tempe lanang.

Sektor pengobatan tradisional juga turut mendongkrak identitas desa, lewat praktik penyembuhan patah tulang maupun dislokasi tanpa operasi alias “sangkal putung”.

Yang tidak kalag membanggakan, regenerasi perajin anyaman bambu tidak pernah mati. “Anak-anak sudah belajar menganyam sejak SD. Bukan karena diajari, tapi karena melihat orang tuanya tiap hari,” tutur Hardiyono.

Tanpa harus bergantung pada wisata alam, Desa Gintangan membuktikan diri mampu tumbuh menjadi desa yang inovatif dan mandiri secara ekonomi.

Di bawah kepemimpinan Hardiyono, potensi lokal seperti anyaman bambu, budaya, dan kuliner diolah menjadi penggerak roda ekonomi yang inklusif.

“Bambu itu bukan sekadar bahan baku, tapi identitas kami. Bahkan anak-anak sejak kecil sudah terbiasa melihat orang tuanya menganyam, sehingga tumbuh kesadaran sendiri untuk melanjutkan,” bebernya.

Bukan itu saja, wWarga secara swadaya membuat kostum dan karya seni untuk Gintangan Bamboo Festival (GBF), inovasi desa yang bukan hanya mempromosikan budaya, tapi juga membuka pasar bagi produk UMKM.

“Ada yang rela habiskan Rp 10 juta demi bikin kostum bambu. Semua dari uang sendiri karena rasa memiliki itu tumbuh dari bawah,” tambahnya.

Di era digital, Desa Gintangan tak tertinggal. Anak muda kini terlibat aktif memasarkan produk melalui media sosial dan marketplace. Pemerintah desa bahkan melibatkan mahasiswa KKN dari kampus luar daerah untuk membantu mempromosikan potensi lokal lewat platform digital. “Saya minta mereka bantu mempromosikan produk karya warga desa kami,” ujar Hardiyono.

Produk kerajinan Gintangan bahkan sudah menembus pasar luar negeri. “Tidak ada produk unggulan khusus, karena semua tergantung pesanan. Bisa tempat lampu, tempat tisu, tempat buah, dan lain sebagainya,” katanya.

Produk-produk sederhana seperti tempat tisu justru paling laris karena praktis dan mudah dibuat.

Pemerintah desa juga aktif mendorong pelatihan-pelatihan untuk menjaga regenerasi perajin anyaman bambu.

Meski tantangan terbesar datang dari minat generasi muda yang mulai teralihkan ke dunia digital, namun berbagai pendekatan edukatif terus dilakukan.

“Kita perlu terus menyentuh mereka. Lewat festival, pelatihan, dan ruang kreasi lain, kami bangun semangat mereka lagi,” tegasnya.

Hardiyono wawancara eksklusif tersebut dengan harapan besar. “Visi kami lima tahun ke depan, Gintangan bisa menciptakan lapangan kerja lewat potensi yang ada. Agar warga, terutama generasi muda, tidak perlu keluar desa untuk sejahtera,” kata dia.

Sekadar diketahui, Desa Gintangan dipilih sebagai lokasi puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-26 Jawa Pos Radar Banyuwangi (JP-RaBa).

Mengusung tema “Tumbuh Bersama Alam”, kru JP-RaBa akan melakukan penanaman bibit bambu dan alpukat di desa tersebut pada Sabtu (26/7) besok. (cw5-Dalila Adinda/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#Gintangan Bamboo Festival #tradisi #radar banyuwangi #ekonomi #podcast