Serta HIV/AIDS dan TBC masih menyandang stigma yang negatif bagi penderita. Yang ujung-ujungnya ada diskrimansi masyarakat terhadap penderita HIV/AIDS dan atau TBC.
Ini terjadi dalam kehidupan sehari hari, baik dalam lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja penderita.
Sementara diketahui capaian pemerintah dalam mengeliminasi penyakit HIV/AIDS atau TBC masih lebih rendah dari target yang sudah ditentukan.
Untuk itu Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama Puskesmas Wiyung mengadakan acara pelatihan bagi Kader Surabaya Hebat (KSH).
Pelatihan diselenggarakan pada Sabtu (19/7) merupakan kegiatan Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang bertujuan untuk menghapus stigma dan diskriminasi pada penderita HIV/AIDS dan TBC.
Pelatihan ini juga sebagai upaya menujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) yakni Good Health and Well Being.
Tim Pengmas yang diketuai oleh Prof. Linda Dewanti serta beranggotakan Rabhindra Javier dan Ayu Nazila, keduanya adalah mahasiswa FK Unair memberikan materi terkini terkait dua penyakit tersebut.
Seperti bagaimaan cara penularan, pencegahan hingga pengobatannya.
Termasuk penjelasan tentang apa yang dirasakan oleh seseorang yang sudah dinyatakan positif HIV/AIDS atau TBC.
“Saat seseorang sudah didiagnosa dan divonis pertama kali akan timbul perasaan yang campur aduk. Antara penyangkalan, mengapa dia yang menderita, perasaan marah, kecewa yang akhirnya keputus asaan,” terang Prof. Linda Dewanti.
Belum lagi perasaan cemas tidak akan diterima lagi di keluarga, teman hingga lingkungan masyrakat, lanjut Linda.
Hal ini yang menjadi penghalang pasien untuk datang berobat di fasilitas kesehatan.
Sehingga berakibat penularan penyakit tidak bisa dicegah, memperparah penyakit hingga berujung kematian.
Sebagai pelengkap testimoni, juga dihadirkan ‘Manajer Ibu Hamil dengan HIV’.
Kader tersebut menceritakan pengalaman hingga memberikan motivasi bagi pasien HIV/AIDS atau TBC kepada KSH.
Guna menggali lebih tentang hambatan dan tantangan KSH selama bertugas, dilaksanakan Focus Group Discussion (FGD).
FGD ini pula sebagai penutup pelatihan yang memunculkan usulan KSH supaya acara serupa bisa dilakukan lebih inten dan di tingkat kelurahan.
Dengan harapan perangkat kelurahan, komunitas PKK dan informal leader lain bisa memahami gerakan menghapus stigma dan diskriminasi pasien dengan HIV/AIDS dan atau TBC.
Editor : Gerda Sukarno Prayudha