Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Makna Pepatah Jika Aib Itu Terbuka, Maka Sama Saja dengan Menaruh Arang di Muka!

Agung Sedana • Selasa, 15 Juli 2025 | 05:51 WIB
Makna Pepatah Jika Aib Itu Terbuka, Maka Sama Saja dengan Menaruh Arang di Muka!
Makna Pepatah Jika Aib Itu Terbuka, Maka Sama Saja dengan Menaruh Arang di Muka!

RADARBANYUWANGI.ID - Pernah mendengar pepatah, “Jika aib itu terbuka, maka sama saja dengan menaruh arang di muka”? 

Dalam budaya Indonesia, terutama dalam peribahasa Jawa atau Melayu, ungkapan ini sering dipakai untuk mengingatkan bahwa membuka aib sendiri atau orang lain sama artinya dengan mempermalukan diri sendiri. 

Lalu, makna dari kiasan tersebut adalah apa sebenarnya?

Dalam kiasan lama, arang sering dilambangkan sebagai sesuatu yang hitam, kotor, dan sulit dibersihkan. 

Menaruh arang di muka artinya menempelkan sesuatu yang membuat wajah tampak kotor dan hina di hadapan orang lain. 

Maka, jika seseorang sengaja membongkar aibnya sendiri padahal Allah menutupinya, sama saja ia memperlihatkan sesuatu yang seharusnya ditutup rapat.

Begitu pula bila kita membuka aib orang lain. Itu ibarat menaruh arang di wajah orang tersebut. 

Padahal menjaga kehormatan orang lain termasuk akhlak mulia yang ditekankan dalam ajaran agama maupun norma sosial.

Baca Juga: Kenapa cewek mandang fisik? Ini 5 Ungkapan Klise Kaum Hawa yang Mengisyaratkan Kebohongan 

Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda;

Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim). 

Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga aib, baik aib sendiri maupun orang lain.

Begitu pula dalam budaya timur, kehormatan (harga diri) adalah hal yang dijaga erat. 

Sekali terbuka aib itu, maka rasa malu akan menempel seperti arang di wajah. Sulit dihapuskan dari ingatan orang lain.

Kiasan ini juga mengajarkan agar kita bijak menggunakan mulut, media sosial, dan segala cara bercerita. 

Tidak semua hal perlu diumbar ke publik, apalagi kekurangan diri sendiri atau orang terdekat. 

Terkadang, diam itu lebih bijak daripada menyesal di kemudian hari karena rahasia sudah terlanjur tersebar.

Karena sekali aib diumbar, rasa malu akan menempel erat, sulit dibersihkan, dan bisa merusak harga diri di mata orang banyak.

Ingatlah pepatah lama ini sebagai nasihat sederhana: semakin banyak yang ditutup rapat, semakin terjaga pula kehormatan diri.

Editor : Agung Sedana
#makna #menaruh arang di muka