Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Bangga! Bahasa Oseng Kini Jadi Pelajaran Wajib di SD Banyuwangi, Dapat Pengakuan Kemendikdasmen

Redaksi • Jumat, 4 Juli 2025 | 21:00 WIB
MEWAKILI BUPATI: Kadispendik Suratno menerima penghargaan dari Wakil Menteri Dikdasmen Atip Latipulhayat di Jakarta pada Mei lalu (26/5).
MEWAKILI BUPATI: Kadispendik Suratno menerima penghargaan dari Wakil Menteri Dikdasmen Atip Latipulhayat di Jakarta pada Mei lalu (26/5).

RADARBANYUWANGI.ID – Pemkab Banyuwangi terus mewujudkan konsistensi dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Oseng.

Salah satu bukti konkretnya adalah pembelajaran muatan lokal (mulok) Bahasa Oseng terus diajarkan di sekolah dasar (SD) di kabupaten the Sunrise of Java.

Program ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya dan bahasa asli Banyuwangi. Konsistensi dalam upaya pelestarian dan ppengembangan bahasa Oseng itu telah mendapat pengakuan secara nasional.

Bahkan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI mengganjar Pemkab Banyuwangi dengan Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FBIN) 2025.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Suratno melalui Kepala Bidang (Kabid) SD Sutikno mengatakan, sejak adanya program revitalisasi bahasa daerah dan penghargaan dari pemerintah pusat, pembelajaran Bahasa Oseng sebagai muatan lokal terus digalakkan.

“Bahasa Oseng adalah bahasa ibu masyarakat Banyuwangi. Melalui pembelajaran di sekolah, kita tanamkan kembali rasa cinta terhadap bahasa daerah sejak dini,” ujarnya

Untuk semakin memperkuat upaya pelestarian, Dispendik juga mengadakan Festival Literasi yang melibatkan siswa-siswi dari berbagai sekolah.

Festival ini menghadirkan beragam kegiatan berbasis budaya lokal seperti sandiworo (drama berbahasa Oseng), cipta puisi, pidato, dan bentuk ekspresi lainnya menggunakan bahasa Oseng.

"Festival ini bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan literasi masyarakat sekaligus menjadi ajang pelestarian bahasa Oseng melalui tradisi lewat memengan sandiworo, cipta puisi, pidato, dan lain sebagainya ,” beber Sutikno.

Dia berharap ke depan pembelajaran Bahasa Oseng dapat terus dilakukan mulai dari kelas 1 hingga kelas 6.

Selain itu, pelatihan bagi para guru juga dinilai penting mengingat hingga saat ini belum ada jurusan bahasa Oseng di perguruan tinggi.

“Ke depan  terus ditingkatkan, terutama bagi pengajar atau guru untuk mendapatkan pelatihan secara mendalam,” kata dia.

Senada dengan Sutikno, Kepala Bidang SMP Dispendik Banyuwangi Didik Eko Wahyudi juga menegaskan pentingnya pelestarian bahasa ibu di semua jenjang pendidikan.

“Karena ini bahasa ibu masyarakat Banyuwangi, maka wajib untuk kita lestarikan dan kembangkan di semua sekolah, tanpa terkecuali,” ujarnya.

Sekadar diketahui, konsistensi Pemkab Banyuwangi dalam melestarikan dan mengembangkan bahasa Oseng berbuah manis.

Kemendikdasmen RI mengganjar Pemkab Banyuwangi dengan Penghargaan Revitalisasi Bahasa Daerah dalam Festival Tunas Bahasa Ibu Nasional (FBIN) 2025.

Penghargaan diserahkan oleh Wakil Menteri Dikdasmen Atip Latipulhayat di Jakarta pada Senin (26/5). Penyerahan penghargaan disaksikan langsung oleh Menteri Dikdasmen Abdul Mu’ti.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, bahasa Oseng merupakan salah satu identitas Banyuwangi yang terus dijaga oleh pemkab.

”Penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi sekaligus motivasi untuk terus mengembangkannya,” ujarnya. (cw6-M Ksatria Raya/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#dinas pendidikan #kemendikdasmen #banyuwangi #mulok #bahasa oseng