RadarBanyuwangi.id – Rencana membuka layanan pendidikan gratis untuk masyarakat tidak mampu lewat program Sekolah Rakyat (SR), tampaknya masih belum maksimal. Selain di kompleks Balai Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) ASN di Kecamatan Licin, pembelajaran untuk SR itu juga akan dilaksanakan di gedung Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banyuwangi yang berlokasi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar.
Untuk SR di Kecamatan Muncar, akan dibuka empat rombongan belajar (rombel). Setiap rombel rencananya berisi 25 siswa untuk kelas IV, V, dan VI. “Kuota 100 siswa, sampai sekarang yang sudah mendaftar masih enam calon siswa dari Kecamatan Muncar dan Kecamatan Srono,” kata Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Muncar, Abdul Haris.
Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Masyarakat pada Pemerintah Kecamatan Muncar, Imam Santoso mengatakan, SR yang kini dibuka itu sekolah gratis dengan fasilitas asrama, seragam sekolah, dan biaya hidup selama di asrama. Untuk lokasi akan ditempatkan di BPVP Banyuwangi di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar. “Meski lokasinya di Kecamatan Muncar, tapi sekolah ini untuk masyarakat Kabupaten Banyuwangi, calon siswanya kategori miskin dan tidak mampu membayar sekolah,” ungkapnya.
Meski sekolah ini gratis, kata dia, ada kendala dalam mencari siswa yang siap untuk daftar di SR. Dari 100 kuota, sampai sekarang baru enam anak yang mendaftar dengan rincian empat dari Kecamatan Muncar dan dua anak dari Kecamatan Srono. “Kami akan terus menyosialisasikan SR, biaya sekolah dan biaya hidup di asrama di tanggung pemerintah,” cetusnya.
Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Siti Agustin menyampaikan, saat melakukan sosialisasi SR ke masyarakat, sering ditolak. Diantara alasannya, orang tua keberatan kalau harus tinggal diasrama. Anak SD kelas IV, V, dan VI dianggap masih perlu pendampingan dari orang tua. “Orang tua menolak karena anak masih kecil, ada juga yang disuruh tanya ke anaknya sendiri dan memberi jawaban udah nyaman pada sekolahnya saat ini,” katanya.
Padahal, jelas dia, meski para siswa SR itu tinggal di asrama, nanti juga akan disiapkan guru pendamping, seperti di pondok pesantren yang didampingi para ustad. “Yang menjadi alasannya itu harus menginap, para orang tua merasa khawatir pada anaknya,” terangnya.
Menurut Agustin, sulitnya menyosialisasikan SR ke masyarakat ini, juga karena program sekolah gratis SR ini masih baru. Sehingga masyarakat tidak mengetahui hasil, atau bukti nyata dari program tersebut. “SR bagi masyarakat hal baru, sehingga perlu sosialisasi terus menerus jika sekolah ini gratis dan biaya hidup di asrama ditanggung pemerintash,” jelasnya seraya mengatakan di Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar sudah ada dua anak yang mendaftar SR.
Sementara itu, untuk lokasi SR di BPVP Banyuwangi di Kecamatan Muncar, ternyata masih belum pasti karena belum ada kesepakatan. “Katanya akan dipinjamkan, beberapa hari lalu sudah ditinjau pegawai Dinas PUPR bersama pegawai kecamatan, tapi untuk surat resmi masih belum diturunkan,” kata Satpam BPVP Banyuwangi, Sunarto.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi