RADARBANYUWANGI.ID – Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah Banyuwangi angkat bicara terkait tidak diterimanya 123 siswa di SMAN 1 Giri untuk pemenuhan kuota.
Cabdin memastikan dari 123 siswa tersebut hanya tiga 3 orang yang benar-benar diterima.
Masalah carut-marut ini berawal ketika 123 calon siswa menerima bukti diterima di SMAN 1 Giri melalui sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Wali murid mendatangi SMAN 1 Giri untuk melakukan daftar ulang. Namun, setelah mendatangi panitia pendaftaran, rupanya mereka semua ditolak.
Karena sebenarnya jumlah pagu pemenuhan kuota yang kosong di SMAN 1 Giri hanya tiga kursi saja. Sedangkan yang mendaftar sampai 123 orang.
Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Banyuwangi Slamet Riyadi mengatakan, kejadian tersebut akibat sistem error.
Pagu pemenuhan kuota yang sebenarnya hanya berisi 3 orang, justru tertulis 123 orang.
Hal itu membuat ratusan calon siswa berbondong-bondong mendaftar. Padahal yang bisa diterima sebenarnya hanya 3 orang saja.
"Jadi jalur itu memang dibuka, untuk memenuhi pagu yang belum terisi. Di SMAN 1 Giri yang kosong hanya 3, yang 120 siswa tidak diterima," kata Slamet.
Meski demikian, mantan Kepala SMAN 2 Taruna Bhayangkara itu menyadari jika orang tua siswa tidak bisa serta merta menerima kondisi tersebut. Pihaknya sudah menyampaikan kejadin tersebut ke operator Dinas Pendidikan Jawa Timur.
"Memang ada calon wali murid yang membawa bukti cetak telah diterima, tapi tulisanya dari jalur domisili. Padahal ini yang dibuka jalur pemenuhan kuota, dari sini saja sudah keliru, karena sistem error," tegasnya.
Sejak Rabu (2/7) Cabang Dinas membuka pendampingan kepada calon siswa yang masih ingin mendaftar ke SMA Negeri, termasuk melihat peluang mendaftar di SMA lain yang masih memiliki pagu kosong.
"Kita ikut mencarikan SMA lain yang masih kosong pagunya. Para siswa masih bisa mendaftar. Kalau mau ke SMK juga bisa," ujarnya.
Sementara itu, Titin, salah seorang wali murid yang ikut terkena prank sistem error SPMB SMAN 1 Giri masih belum mendaftarkan anaknya ke sekolah lain. Dia masih melihat peluang mana yang memungkinkan anaknya bisa diterima.
"Saya melihat dulu. Nanti kalau salah takutnya malah tidak bisa sekolah. Tapi kalau anak saya tidak diterima sekolah, saya akan minta pertanggungjawaban sekolah, terutama SMAN 1 Giri," kata Titin. (fre/aif)
- Ikuti terus berita ter-update dari Radar Banyuwangi di Google News.