RADARBANYUWANGI.ID - Pemkab Banyuwangi terus berkomitmen mewujudkan pendidikan inklusif di Bumi Blambangan.
Digulirkan sejak 2013, hingga kini terdapat sedikitnya 162 lembaga pendidikan inklusi mulai jenjang SD hingga SMP.
Sekolah inklusi merupakan sekolah yang menyediakan layanan pendidikan bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam satu lingkungan belajar yang sama.
Untuk itu, pemkab tidak hanya menyiapkan infrastruktur yang ramah terhadap teman difabel alias ABK, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) yang ditugaskan sebagai guru pendamping.
Bahkan, pada pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SD dan SMP negeri tahun ajaran 2025/2026 beberapa waktu lalu, Bupati Ipuk Fiestiandani menekankan agar seleksi calon peserta didik baru tersebut harus berdasar pada nilai-nilai pendidikan yang inklusif dan berasas keadilan.
Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, pemkab menyiapkan sekolah inklusi yang ramah difabel.
Mulai dari infrastrukturnya hingga sumber daya manusianya. Sejauh ini, pemkab telah menyiapkan 250 guru pendamping yang disebar di berbagai sekolah inklusi se-Banyuwangi. Mereka bertugas mendampingi 1.147 peserta didik berkebutuhan khusus.
“Pada prinsipnya, tidak boleh ada yang tertinggal dalam pendidikan. Tidak terkecuali para penyandang disabilitas,” tegasnya.
Tidak hanya itu, pemkab juga memberikan kesempatan kerja kepada para difabel. Pemkab memberi kesempatan teman menjadi abdi negara melalui seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS).
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno mengatakan, pemkab telah mewujudkan sekolah inklusi yang ramah bagi para penyandang disabilitas.
“Hingga kini semua sekolah negeri di Banyuwangi telah berstatus sekolah inklusif,” ujarnya.
Pemkab juga telah meluncurkan inovasi Si-Denakwangi (Aplikasi Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Kabupaten Banyuwangi).
Aplikasi ini digunakan untuk mendeteksi jenis ketunaan peserta didik berkebutuhan khusus.
Sementara itu, komitmen pemkab mewujudkan sekolah inklusi di Banyuwangi mendapat dukungan dan apresiasi banyak pihak. Termasuk dari lembaga pendidikan internasional.
Salah satunya dari Global Village Foundation, yang sejak 2021 konsisten memberikan dukungan untuk penguatan program inklusif di kabupaten the Sunrise of Java. Antara lain pemberian ratusan kursi roda bagi penyandang disabilitas di Banyuwangi.
“Saya mengapresiasi komitmen Banyuwangi yang terus memberikan perhatian besar kepada kaum difabel. Program-program yang digulirkan banyak yang berpihak kepada penyandang disabilitas,” ujar Founder Global Village Foundation, Andy Bracey dalam acara “Aktualisasi Sekolah Luar Biasa sebagai Pusat Sumber untuk Mendukung Banyuwangi Lebih Inklusif” yang berlangsung di Pendapa Sabha Swagatha Blambangan beberapa waktu lalu (25/2).
Apresiasi juga datang dari Perkins International sebuah lembaga yang konsisten menyokong program-program inklusivitas di Banyuwangi.
Di antaranya, melalui berbagai pelatihan bagi para guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dan orang tua penyandang disabilitas. Misalnya, pelatihan komunikasi hingga cara penanganan disabilitas.
Kadispendik Provinsi Jatim Aries Agung juga mengapresiasi Pemkab Banyuwangi yang telah memberikan porsi tinggi untuk kegiatan inklusi di daerah.
“Banyuwangi mencurahkan perhatian serius untuk pendidikan inklusi. Kami berharap perkembangan yang dilakukan Banyuwangi bisa dicontoh oleh kabupaten lain di Jatim bahkan di seluruh Indonesia,” ujarnya. (sgt)
Editor : Lugas Rumpakaadi