RADARBANYUWANGI.ID – Setiap memasuki bulan Muharram, umat Islam di berbagai penjuru dunia mengenang berbagai peristiwa besar dalam sejarah kenabian.
Salah satu yang sering disebut dalam majelis-majelis keagamaan adalah keyakinan bahwa taubat Nabi Adam AS diterima oleh Allah SWT pada tanggal 10 Muharram, yang dikenal sebagai Hari Asyura.
Namun, benarkah ini bersumber dari riwayat yang sahih? Atau hanya tradisi dari riwayat-riwayat lama?
Kisah Penciptaan dan Taubat Nabi Adam
Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang diciptakan langsung oleh Allah dari tanah. Ia dan istrinya, Hawa, diperintahkan tinggal di surga dan dilarang mendekati satu pohon tertentu.
"Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga dan makanlah dengan nikmat segala (makanan) yang ada di sana sesuka kalian. Tetapi jangan dekati pohon ini, nanti kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al-A’raf: 19)
Setelah tergoda oleh bujuk rayu iblis, mereka melanggar larangan tersebut. Akibatnya, mereka diturunkan ke bumi. Dalam penyesalan yang dalam, Adam dan Hawa memohon ampun.
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A’raf: 23)
Doa inilah yang menjadi simbol taubat sejati manusia pertama, dan konon diterima oleh Allah.
Apakah Taubat Nabi Adam Terjadi di 10 Muharram?
Di sinilah letak perdebatan. Beberapa kitab tafsir klasik seperti Tafsir al-Baghawi, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tarikh al-Tabari menyebutkan bahwa taubat Nabi Adam diterima oleh Allah pada hari ke-10 bulan Muharram, hari yang juga dikenal sebagai Asyura.
Namun penting dicatat, bahwa tidak ada hadis sahih dari Nabi Muhammad SAW yang secara eksplisit menyebutkan bahwa taubat Adam terjadi pada 10 Muharram.
Riwayat ini berasal dari Israiliyat, yaitu kisah-kisah Bani Israil yang diwariskan dalam literatur Islam awal.
Ulama sepakat bahwa Israiliyat boleh dijadikan hikmah, tetapi tidak boleh dijadikan dasar hukum atau keyakinan mutlak, kecuali bila dikuatkan oleh Al-Qur’an atau hadis sahih.
Keutamaan 10 Muharram dalam Hadis Sahih
Meski tidak disebutkan tentang Adam, hari Asyura tetap hari agung dalam Islam. Rasulullah SAW menganjurkan puasa Asyura dan menjelaskan keutamaannya.
"Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu." (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain:
"Hari ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israil dari Firaun, maka aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari Asyura tetap hari yang dimuliakan dalam Islam, karena didasarkan pada hadis sahih tentang Nabi Musa AS dan puasa sunah Asyura.
Terlepas dari perdebatan tentang waktu pastinya, bulan Muharram tetap menjadi kesempatan istimewa untuk menghijrahkan diri, merenung, dan memperbanyak ibadah.
Seperti Adam yang kembali kepada Allah dengan kesungguhan hati, setiap manusia pun punya kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri.
Editor : Agung Sedana