RADARBANYUWANGI.ID – Khutbah Jumat di awal Muharram ini, akan membahas tentang tema yang sangat relevan di zaman media sosial dan derasnya informasi.
Yakni "Menjaga Lisan, Menyelamatkan Iman." Ini bukan sekadar adab, tapi inti dari keimanan itu sendiri.
Banyak dari kita lupa bahwa ucapan yang kita lontarkan, baik secara langsung maupun melalui jari-jari kita di dunia digital, akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah SWT telah menegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa tidak ada satu pun ucapan yang luput dari catatan malaikat.
Maka, sudah seharusnya khutbah Jumat ini menjadi pengingat agar kita menakar setiap kata, menjaga setiap kalimat.
Karena ucapan yang baik menurut Islam bisa menjadi sebab turunnya rahmat, sementara kata-kata yang kotor bisa mengundang murka.
Allah SWT berfirman dalam QS. Qaf ayat 18:
"Maa yalfidhu min qawlin illaa ladaihi raqiibun ‘atiid."
Artinya: "Tiada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."
Betapa dahsyatnya pengaruh lisan. Tak terhitung berapa banyak konflik rumah tangga, perpecahan antarsahabat, bahkan perang antarbangsa bermula dari ucapan yang tidak dijaga.
Oleh karena itu, khutbah Jumat hari ini ingin mengajak kita semua untuk merenungkan kembali fungsi lidah, yang seharusnya membawa manfaat, bukan mudarat.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah. Ayat ini menegaskan bahwa setiap ucapan kita tidak pernah luput dari pengawasan.
Baik buruknya lisan bisa menjadi sebab keselamatan, atau justru kehancuran.
Rasulullah SAW bersabda:
"Siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua janggutnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku jamin untuknya surga." (HR. Bukhari)
Hadits ini menunjukkan betapa krusialnya menjaga lisan. Satu kalimat bisa membuat seseorang masuk surga, tapi satu kata juga bisa menyeretnya ke neraka.
Berapa banyak pertengkaran rumah tangga, permusuhan antar saudara, bahkan peperangan dimulai dari ucapan yang tak terkendali?
Jamaah sekalian, mari kita refleksikan:
Sudahkah kita menahan lisan dari ghibah? Dari mencela? Dari berita palsu yang tersebar lewat jari-jari di media sosial?
Mari kita renungkan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:
"Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?"
Bayangkan, Allah mengumpamakan ghibah seperti memakan bangkai saudara sendiri. Betapa jijiknya perbuatan itu di sisi Allah.
Lalu, bagaimana cara kita menjaga lisan? Bicara jika perlu, diam jika ragu.
Rasulullah bersabda:
"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perbanyak zikir dan istighfar. Ini bisa jadi tameng agar lidah tidak tergelincir.
Tahan emosi, jaga nada bicara. Kadang bukan isi yang menyakitkan, tapi cara kita mengucapkannya.
Penutup Khutbah Pertama:
Marilah kita mohon kepada Allah agar menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga lisan, yang ucapan-ucapannya membawa keberkahan, bukan kehancuran.
Khutbah Kedua
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, Pada khutbah kedua ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.
Tidak cukup hanya dengan ilmu, tapi juga dengan amal nyata. Jangan sampai lisan kita mengaku beriman, tetapi tindakan dan ucapan kita justru menjadi penyebab dosa.
Ingatlah, bahwa di awal Muharram ini ataupun di hari besar Islam lainnya akan terasa hampa jika kita masih sulit menjaga lisan dari maksiat.
Apa gunanya salat jika ucapan kita melukai saudara? Apa gunanya zikir jika lidah kita masih sibuk mencela?
Mari kita perbaiki akhlak lisan mulai dari hari ini.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقَوْلِ الْحَسَنِ
"Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang lisannya selalu berkata baik."
Akhirnya, marilah kita berdoa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
"Ya Allah, ampunilah seluruh kaum Muslimin dan Muslimat, yang hidup maupun yang telah wafat."
Editor : Agung Sedana