RADARBANYUWANGI.ID - Pemkab Banyuwangi menjadikan pendidikan sebagai program prioritas wajib. Meski pemerintah menerapkan efisiensi anggaran, sektor pendidikan tetap diprioritaskan agar kualitasnya tidak menurun. Selain itu, pendidikan harus tetap dirasakan oleh semua kalangan.
Salah satu program pro pendidikan yang secara konsisten dijalankan Pemkab Banyuwangi adalah Banyuwangi Cerdas.
Sejak diluncurkan pada 2011 hingga tahun lalu, sedikitnya 3.900 anak muda Banyuwangi telah menyelesaikan kuliah dengan beasiswa dari pemkab. Tidak sedikit dari mereka yang kini menjadi sosok berprestasi di berbagai bidang.
Bupati Ipuk Fiestiandani menjelaskan, program Banyuwangi Cerdas diperuntukkan bagi anak-anak muda berprestasi dari keluarga kurang mampu, yatim piatu, dan penyandang disabilitas yang memiliki semangat belajar tinggi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
”Ini adalah upaya untuk menjamin pendidikan bagi siswa yang berprestasi namun tidak mampu secara ekonomi. Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa, maka perlu dijamin agar mereka bisa meneruskan ke jenjang lebih tinggi,” ujarnya.
Dengan taraf pendidikan yang lebih baik, lanjut Ipuk, para lulusan program Banyuwangi Cerdas diharapkan mampu memperoleh kehidupan yang lebih layak dan mengentaskan keluarga dari lingkaran kemiskinan. ”Pendidikan adalah jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan,” imbuhnya.
Beasiswa Banyuwangi Cerdas terbagi dalam dua skema. Pertama, beasiswa pembiayaan penuh selama delapan semester (empat tahun), termasuk uang saku bulanan.
Skema ini juga dikenal sebagai ”Bidik Misi”. Kedua, beasiswa on going, yaitu untuk mahasiswa yang sudah menjalani perkuliahan namun mengalami kesulitan biaya di tengah jalan.
Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Suratno menambahkan bahwa tahun ini pemkab bekerja sama dengan delapan perguruan tinggi negeri (PTN), yakni Universitas Airlangga (Unair) Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Banyuwangi; Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi); Akademi Penerbang Indonesia (API) Banyuwangi; Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Sugriwa Denpasar; Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta; Universitas Terbuka (UT) Jember Kampus Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan; Universitas Islam Negeri KH Achmad Siddiq Jember; serta Universitas Jember (Unej).
Program ini juga membuka kesempatan bagi mahasiswa aktif (on going) dari berbagai kampus di seluruh Indonesia yang masih menempuh pendidikan dan belum menyelesaikan studi.
Suratno menyatakan bahwa proses seleksi berlangsung sesuai jadwal dan ketentuan dari masing-masing perguruan tinggi mitra.
”Program Banyuwangi Cerdas sudah berjalan sesuai tahapan yang ditetapkan kampus masing-masing. Kami terus memantau pelaksanaannya,” ujarnya, Senin (23/6).
Salah satu lulusan penerima beasiswa Banyuwangi Cerdas yang mencetak prestasi adalah Dewi Agustiningsih, asal Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi.
Ia berhasil menjadi doktor termuda dan tercepat lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan kini mengajar sebagai dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Selain itu, banyak alumni Banyuwangi Cerdas yang kembali ke tanah kelahiran dan mengabdikan diri melalui program Banyuwangi Mengajar.
Salah satunya Melisa Purnamasary, penerima beasiswa tahun 2020, yang telah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Pendidikan Agama Islam, UIN Jember. Sebagai bentuk kontribusi atas beasiswa yang diterima, Melisa kini mengajar di SDN 5 Kebunrejo, Kecamatan Kalibaru. (sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin