RADARBANYUWANGI.ID – Belakangan ini, istilah deep learning sering kali disalahartikan sebagai kurikulum baru yang akan diterapkan di sekolah-sekolah Indonesia mulai tahun ajaran 2025/2026.
Padahal, Menteri Pendidikan Dasar Abdul Mu’ti menegaskan bahwa deep learning bukanlah kurikulum baru.
Ini melainkan sebuah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pemahaman mendalam serta pengaplikasian konsep, bukan sekadar mengerjakan soal ujian.
Dia menjelaskan bahwa deep learning bertujuan membangun kemampuan siswa memahami konsep secara menyeluruh.
Ini bukan metode hafalan atau drilling semata, tetapi mendorong siswa berpikir kritis, reflektif, dan kontekstual.
Banyak masyarakat dan bahkan pendidik masih mengira bahwa deep learning adalah nama kurikulum baru yang akan menggantikan Kurikulum Merdeka.
Padahal, deep learning adalah bagian dari penguatan metode dalam kurikulum yang ada, bukan pengganti.
Ia lebih merupakan perubahan paradigma mengajar dan belajar dari hafalan ke pemahaman, dari hasil ke proses, dari teori ke aplikasi.
Pendekatan ini sangat sejalan dengan visi pendidikan masa depan yang dicanangkan pemerintah, yakni menyiapkan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat, bukan sekadar pencetak nilai tinggi di ujian.
Kemendikdasmen berencana mulai menerapkan deep learning secara terbatas pada tahun ajaran 2025/2026 mendatang.
Namun penting digarisbawahi, pelaksanaannya tidak akan langsung berlaku untuk seluruh sekolah.
Sebagai langkah awal, pemerintah akan mengujicobakan pendekatan ini di sejumlah Sekolah Model, yakni transformasi dari konsep Sekolah Penggerak yang dulu diinisiasi pada masa Menteri Nadiem Makarim.
Sekolah Model ini menjadi laboratorium pembelajaran yang diharapkan menjadi contoh penerapan deep learning secara ideal dan adaptif terhadap konteks Indonesia.
Baca Juga: Dear Guru PPPK: Sekarang Bisa Menjadi Kepala Sekolah, PGP Bukan Lagi Syarat Wajib!
Guru Dilatih ke Australia
Sebagai bagian dari persiapan, Kemendikdasmen juga telah menyeleksi guru-guru terbaik dari seluruh Indonesia untuk diberangkatkan ke Australia.
Mereka diberi tugas belajar langsung ke sekolah-sekolah yang telah menerapkan deep learning, demi memahami filosofi dan praktik terbaiknya.
Kelak, para guru ini akan menjadi pelatih nasional yang membimbing guru-guru lain di tanah air.
Australia dipilih bukan tanpa alasan. Negara ini menjadi mitra strategis Kemendikdasmen sejak awal penyusunan naskah akademik kebijakan deep learning.
Pengalaman panjang Australia dalam menerapkan pendekatan ini di sekolah-sekolah dasar dan menengah menjadi rujukan penting dalam mendesain sistem yang sesuai dengan karakter pendidikan Indonesia.
Ciri-ciri Pembelajaran Deep Learning ala Kemendikbud:
- Berpusat pada peserta didik – Guru bertindak sebagai fasilitator.
- Mengembangkan kompetensi berpikir kritis dan pemecahan masalah.
- Pembelajaran bermakna (meaningful learning) – materi dikaitkan dengan konteks nyata kehidupan siswa.
- Kolaboratif dan kontekstual – mendorong kerja tim dan proyek berbasis kehidupan nyata.
- Mendorong kreativitas, inovasi, dan refleksi diri.
Contoh dalam praktik:
- Siswa diajak membuat proyek sosial yang berkaitan dengan lingkungan sekitar.
- Guru tidak hanya menjelaskan teori, tapi juga mengajak siswa menyelidiki, mengobservasi, dan menganalisis masalah.
- Penilaian bukan hanya ujian tertulis, tetapi juga presentasi, diskusi, dan portofolio.
Tujuan Deep Learning di Kurikulum Merdeka:
- Mendorong profil Pelajar Pancasila: mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, dll.
- Menyiapkan siswa menghadapi tantangan dunia nyata, bukan sekadar hafalan.