RADARBANYUWANGI.ID – Sejatinya masyarakat asli Gunungkidul lebih akrab dengan istilah Pati Ngendat, Pulung Gantung lebih dikenal luas karena lebih mudah dipahami oleh media dan warga luar daerah.
Nah, mitos Pati Ngendat ini ternyata digambarkan dengan jenis yang sangat beragam. Muncul berbagai versi tentang bagaimana Pulung Gantung atau Pati Ngendat ini mempengaruhi korban untuk melakukan percobaan bunuh diri.
Berikut empat versi yang berbeda menurut warga asli Gunungkidul dan bagaimana mitos Pulung Gantung ini mempengaruhi sasarannya.
- Bola Api Bercahaya
Salah satu versi yang paling populer dan diangkat ke dalam film Pulung Gantung: Pati Ngendat. Bola api bercahaya ini muncul berwarna merah ataupun biru yang melayang di langit malam dan jatuh di lokasi yang menjadi pertanda akan ada insiden gantung diri dalam waktu dekat.
- Kicauan Burung Kedasih atau Burung Gagak
Versi cerita masyarakat lain menyebutkan bahwa kemunculan Pulung Gantung atau Pati Ngendat ini ditandai dengan kicauan burung kedasih atau gagak, terutama saat menjelang malam hari.
- Bisikan Gaib
Versi ketiga mengaitkan kejadian ini dengan baik melalui mimpi maupun suara-suara sebelum tidur, yang membuat seseorang merasa terpengaruh secara mental hingga nekat mengakhiri hidupnya.
- Iblis dan Ilmu Hitam
Di balik misteri itu, beberapa masyarakat Gunungkidul percaya bahwa Pulung Gantung merupakan iblis atau bentuk praktek ilmu hitam.
Ada yang meyakini, iblis penghuni alas (hutan) terganggu oleh aktivitas warga yang membuka lahan untuk bertani, lalu membisikkan dorongan bunuh diri kepada warga tersebut.
Ada pula yang percaya bahwa fenomena ini bisa jadi kiriman santet atau kutukan dari orang yang tidak menyukai korban.
Menariknya, meskipun mitos ini berkembang pesat, terutama di daerah pelosok seperti Dusun Karangmojo, Pendul dan desa-desa dekat pesisir pantai. Pernah ada kasus di mana warga nyaris menjadi korban namun berhasil terselamatkan.
Dalam keyakinan masyarakat, jika satu orang berhasil menjadi korban, maka pulung itu bisa menyebar ke orang lain di sekitarnya, seolah energinya berhasil mempengaruhi lalu ia melanjutkan ke target lain.
Data lapangan yang dihimpun warga setempat menyebutkan bahwa kasus kematian dengan cara gantung diri di Gunungkidul bisa mencapai 45 kasus dalam setahun, lebih tinggi dari data resmi yang sering dipublikasikan.
Korbannya kebanyakan adalah warga berusia 45 hingga 60 tahun yang bekerja di ladang, dengan latar belakang tekanan ekonomi, kesepian, dan masalah keluarga.
Meskipun mitos ini telah diwariskan turun-temurun, sebagian masyarakat dan tokoh lokal kini mulai mendorong pendekatan yang lebih rasional. (*)
Editor : Ali Sodiqin