RADARBANYUWANGI.ID – Bedasarkan data di Portal Data Kemendikdasmen, jumlah satuan pendidikan aktif di Kabupaten Banyuwangi saat ini adalah 3.114.
Data ini mencakup semua jalur pendidikan (formal dan non formal) serta berbagai bentuk satuan pendidikan.
Rincinannya, Sekolah Menengah Pertama (SMP) berjumlah 73 SMP, Sekolah Menengah Atas (SMA) Ada 71 SMA, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) tercatat ada 90 SMK.
Sedangkan Madrasah Aliyah (MA) berjumlah 4 MA negeri, sedangkan jumlah MA swasta yang cukup signifikan.
Sedangkan jumlag Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) sangat banyak.
Selain itu, terdapat pula satuan pendidikan non formal seperti lembaga kursus dan pelatihan, serta satuan pendidikan lain seperti PAUD dan TK.
Namun, pengembangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Banyuwangi belum mampu menyasar semua sekolah tersebut.
Program MBG baru mampu menyasar 45 sekolah dengan total penerima makanan gratis 6.738 siswa.
Ada tiga lokasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang aktif beroperasi, yakni di Rogojampi, Sempu, dan Kebalenan.
Dalam waktu dekat akan berdiri dapur umum baru di Kecamatan Kabat, Banyuwangi.
Dandim 0825 Banyuwangi Letkol (Arh) Joko Sukoyo mengatakan, dari tiga SPPG yang telah beroperasi, sudah meng-cover program MBG di 45 sekolah. Total sasaran penerima manfaat mencapai 6.738 siswa.
Dari tiga dapur tersebut, dua dapur mengadopsi format hibrid dan satu SPPG di Rogojampi murni dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Dari tiga dapur, satu SPPG melayani 17 sekolah secara langsung. Sementara dua lainnya mengadopsi format hibrid yang melayani 22 sekolah,’’ imbuhnya.
Untuk terus mendukung perluasan cakupan MBG, dalam waktu dekat akan berdiri SPPG resmi di wilayah Kabat.
Tinggal menunggu proses dari BGN untuk merealisasikan pembangunan lokasi tersebut.
"Kita tunggu satu lagi SPPG resmi di Kabat, menunggu info dari BGN. Target kita bisa menyasar ke wilayah selatan Banyuwangi, jadi tidak parsial (terpisah-pisah)," imbuh Joko.
Terkait pengawasan kualitas makanan, Kodim rutin melakukan evaluasi terhadap seluruh dapur yang terlibat dalam program MBG.
Fokus utama evaluasi adalah memastikan kualitas gizi makanan yang disalurkan. Sebab, komitmen program ini adalah untuk peningkatan gizi dan kesehatan ribuan siswa di Banyuwangi.
”Jangan sampai ada permasalahan terkait kualitas makanan yang tidak langsung ditangani. Seminggu sekali ada evaluasi.
Jika ada yang krusial, langsung kita potong. Langsung kita eksekusi jika ada yang perlu perbaikan,’’ tegas pria yang pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon Arhanud 10/Agni Buana Cakti di Jakarta Selatan itu. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin