RADARBANYUWANGI.ID - Sepatu pantofel, yang sering disebut Oxford shoes, telah lama dihormati sebagai lambang keanggunan dan formalitas dalam busana pria.
Meski tampilannya tetap sederhana, sentuhan elegan dalam desainnya mencerminkan tradisi klasik sekaligus berbagai inovasi sepanjang sejarah.
Jejak pertama sepatu Oxford bisa ditelusuri ke abad ke-17 di Skotlandia dan Irlandia, di mana mereka dikenal sebagai “Balmorals”, nama yang diambil dari Kastil Balmoral.
Popularitas model ini meroket pada awal abad ke-19 ketika mahasiswa Universitas Oxford memodifikasi sepatu bot tinggi tradisional (“Oxonian”) menjadi versi yang lebih rendah dan nyaman.
Inovasi paling mencolok adalah sistem tali tertutup, yang menempatkan lubang tali di bawah vamp (bagian atas sepatu), menciptakan siluet yang lebih ramping dan tampak rapi.
Dari model dasar itulah berkembang beberapa varian, misalnya:
- Cap-Toe Oxford: Dihiasi dengan lapisan ekstra di ujung kaki.
- Plain-Toe Oxford: Mempertahankan kesederhanaan tanpa hiasan.
- Wingtip/Brogue Oxford: Menampilkan pola lubang dekoratif yang memberi karakter klasik.
Bahan pilihan untuk Oxford shoes pun beragam mulai kulit sapi halus, kulit berkilau (paten), hingga suede dengan palet warna yang sering kali berpusat pada hitam dan cokelat tua.
Karena desainnya yang klasik dan fleksibel, sepatu pantofel ini menjadi andalan dalam beragam acara resmi, dari rapat bisnis hingga pesta pernikahan.
Bahkan di era modern, desainer papan atas terus merilis versi mutakhirnya, menjaga ketenaran Oxford shoes tetap hidup di kalangan generasi urban masa kini. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi