RADARBANYUWANGI.ID - Wisuda sarjana Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi ke-48 periode II tahun akademik 2024/2025 kembali digelar dalam sidang senat terbuka, Sabtu (24/5). Tiga wisudawan dari kampus merah putih tersebut mempersembahkan prestasi cemerlang. Ketiganya meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Prosesi wisudah diikuti 166 sarjana dari 6 fakultas dan 11 program studi. Wisuda yang berlangsung di auditorium Untag tersebut berjalan khidmat dan penuh makna. Tiga wisudawan berhasil meraih IPK tertinggi, yakni 4,00, sekaligus mendapatkan predikat ”dengan pujian” (cumlaude).
Tiga wisudawan tersebut adalah Aulita Inestya Putri SPd dari Program Studi Pendidikan Sejarah, Eva Wulaningrum SPd dari Pendidikan Bahasa Inggris, serta Maftuha Kiswah SH dari Program Studi Hukum.
Selain para peraih IPK tertinggi, satu wisudawan turut mencatatkan prestasi sebagai lulusan dengan masa studi tercepat. Dia adalah adalah Siti Nur Kamilah SH dari Program Studi Hukum dengan IPK 3,80 dan masa studi 3 tahun 4 bulan 10 hari.
Sedangkan Sinta Tri Lestari SM yang menuntaskan studi dalam waktu 3 tahun 4 bulan 10 hari dengan IPK 3,99, berhasil meraih akumulasi poin rekognisi tertinggi, yakni 428,5 poin. Sehingga, dinobatkan dengan predikat istimewa atas capaian akademik dan non-akademiknya.
Prosesi wisuda dimulai dengan penampilan memukau dari anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tari Melati Suci, yang membawakan tari gandrung dor, tarian khas Banyuwangi yang penuh makna atas rasa syukur serta penghormatan.
Tak ketinggalan, penampilan dari UKM paduan suara turut menyemarakkan suasana dengan lantunan lagu-lagu wajib wisuda dan hiburan yang mengiringi jalannya acara dari awal hingga akhir.
Rektor Untag Banyuwangi Dr Yovita Vivianty Indriadewi Atmaja SE MCom dalam pidato sambutannya menyampaikan, di era saat ini perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan yang kompeten secara akademik.
Lebih dari itu, kampus harus mampu menjadi pusat perubahan yang nyata, hadir di tengah masyarakat, serta berperan aktif dalam menyentuh dan menyelesaikan persoalan-persoalan sosial.
Konsep ini sejalan dengan arah kebijakan pendidikan tinggi melalui program ”Diktisaintek Berdampak”, yang menekankan pentingnya relevansi pendidikan tinggi sebagai penghasil ilmu pengetahuan dan teknologi yang tak hanya berhenti di ruang kelas, namun hadir nyata di tengah masyarakat.
”Oleh karena itu, Untag Banyuwangi berkomitmen untuk memastikan bahwa setiap program yang dijalankan kampus bermuara pada manfaat sosial, riset, dan pengabdian kepada masyarakat,” kata Yovita.
Beragam bentuk kolaborasi dengan berbagai pihak juga terus diarahkan untuk mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya.
”Demikian pula dengan lulusan yang dihasilkan, kami dorong untuk tidak hanya berpikir tentang hal karir pribadi, tetapi memiliki jiwa sosial untuk memberi solusi dan berkontribusi di lingkungan masing-masing,” papar Yovita yang pernah menjabat Dekan Fakultas Ekonomi tersebut.
Doktor lulusan Universiats Airlangga itu mengaku bangga dengan capaian IPK yang ditorehkan wisudawan. Dalam wisuda kali ini rata-rata IPK tergolong sangat tinggi, yakni 3,72.
Yovita menegaskan, di era yang penuh dinamika ini, IPK bukanlah satu-satunya tolok ukur kesuksesan. Oleh karena itu, Untag Banyuwangi memberikan ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi diri di luar ruang kelas, baik melalui kegiatan organisasi, kewirausahaan, maupun program pengabdian masyarakat.
Setiap kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa di luar kelas semasa kuliah tercatat dalam SKPI (surat keterangan pendamping ijazah) yang mencatat juga kompetensi non-akademik seperti organisasi, seminar, magang, lomba, dan pengabdian masyarakat. ”Hal ini menjadi nilai tambah bagi lulusan saat bersaing di dunia kerja,” katanya.
Pada periode wisuda kali ini, tercatat bahwa wisudawan dengan nilai akumulasi rekognisi SKPI tertinggi berhasil meraih skor impresif sebesar 482,5 poin. Hal ini mencerminkan keterlibatan aktif dalam berbagai aktivitas non-akademik sehingga memberikan nilai tambah terhadap kompetensi lulusan secara holistik.
Rektor juga mengingatkan kepada seluruh wisudawan agar tidak pernah ragu untuk memulai langkah kecil mengambil peran di lingkungan sekitar. ”Jangan hanya memikirkan apa yang bisa saya dapat, tapi berpikirlah apa yang bisa saya berikan. Itulah esensi dari lulusan yang berdampak,” pesan Yovita.
Di akhir sambutan, Yovita mengutip sebuah pepatah bijak, yakni ”Hidup yang tidak memberikan manfaat pada orang lain adalah hidup yang sia-sia”.
Yovita berharap para lulusan Untag Banyuwangi menjadi insan pembelajar sepanjang hayat yang terus mengasah diri, berani berinovasi, adaptif terhadap perubahan, dan tetap menjaga nilai integritas serta kebangsaan.
Yovita juga membacakan pantun yang ditujukan secara khusus kepada salah satu wisudawan tertua, Suryono SP, yang berusia 60 tahun.
”Mampir sejenak di Desa Banjar, dengarkan gamelan dan suara rebana. Tidak ada kata terlambat untuk belajar, karena ilmu tidak mengenal usia,” ucapnya disambut seruan ”cakep” dari seluruh wisudawan. (DALILA ADINDA/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin