Radarbanyuwangi.id - Penggunaan layang-layang untuk memancing telah tercatat sejak abad ke-17.
Di Ternate, misalnya, terdapat ilustrasi dari tahun 1600-an yang menggambarkan nelayan menggunakan layang-layang untuk menangkap ikan.
Teknik ini juga ditemukan di berbagai daerah lain di Indonesia, seperti Lampung, Buton Utara, dan Kepulauan Talaud.
Di Lampung, nelayan menggunakan layang-layang yang terbuat dari plastik berukuran sedang dengan umpan ikan tanjan untuk menangkap ikan ceracas atau cucut.
Sementara itu, di Buton Utara, nelayan menggunakan layang-layang untuk menangkap ikan tuna, dengan hasil tangkapan yang bisa mencapai lebih dari 100 ekor dalam sekali melaut.
Di Kepulauan Talaud, layang-layang dibuat dari daun tabang yang diperkuat dengan lidi, dan umpan yang digunakan adalah sarang laba-laba yang dibentuk seperti gelang.
Teknik ini telah digunakan sejak tahun 1930-an untuk menangkap ikan sako.
Keunikan dan Keunggulan Teknik Memancing dengan Layangan
Teknik memancing dengan layangan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan metode konvensional.
Dengan menggunakan layang-layang, umpan dapat dibawa jauh ke tengah laut tanpa perlu menggunakan perahu, sehingga menghemat biaya dan tenaga.
Selain itu, gerakan umpan yang meliuk-liuk di permukaan air karena tarikan layang-layang dapat menarik perhatian ikan predator seperti tuna dan ceracas.
Di beberapa daerah, teknik ini juga dianggap lebih ramah lingkungan karena tidak merusak ekosistem laut.
Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, tradisi memancing dengan layangan mulai tergerus dan hanya dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat pesisir.
Pelestarian Warisan Budaya Maritim
Memancing dengan layangan merupakan bagian dari warisan budaya maritim yang perlu dilestarikan.
Upaya pelestarian dapat dilakukan melalui dokumentasi, penelitian, dan pengenalan teknik ini kepada generasi muda.
Selain itu, pengembangan wisata budaya dan pelatihan bagi nelayan juga dapat menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan tradisi ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin