RadarBanyuwangi.id - Kurikulum Merdeka yang kini diterapkan di berbagai sekolah di Indonesia membawa angin segar bagi dunia pendidikan.
Salah satu peluang besar yang terbuka lebar adalah pengintegrasian permainan tradisional dalam kegiatan intra maupun ekstrakurikuler.
Tidak hanya menyenangkan, permainan tradisional ternyata sangat selaras dengan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila.
Permainan seperti bakiak, engklek, gobak sodor, atau egrang menekankan kerja sama, sportivitas, kreativitas, dan cinta budaya lokal.
Nilai-nilai ini sejalan dengan karakter yang ingin dibentuk melalui Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, kemandirian, dan kebhinekaan global.
Dalam proses bermain, anak-anak belajar menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dan menghargai teman.
Beberapa sekolah sudah mulai menerapkan pendekatan ini secara konkret. Di sekolah dasar di Yogyakarta, misalnya, permainan tradisional dimasukkan ke dalam proyek berbasis budaya lokal.
Siswa tidak hanya bermain, tapi juga menggali sejarah, membuat ulang alat permainan, hingga menulis cerita rakyat yang berkaitan. Hasilnya, siswa lebih aktif, gembira, dan memiliki rasa bangga terhadap budaya sendiri.
Melalui Kurikulum Merdeka, guru memiliki kebebasan untuk berinovasi dalam menyusun kegiatan belajar.
Inilah saat yang tepat untuk menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai media pembelajaran yang kontekstual dan bermakna.
Bukan hanya sekadar nostalgia, tapi juga investasi karakter dan budaya bagi generasi masa depan.
Permainan tradisional bukan masa lalu. Bersama Kurikulum Merdeka, ia justru punya masa depan yang cerah. (*)
Editor : Ali Sodiqin