RadarBanyuwangi.id - Baju tidur atau piyama memiliki akar sejarah yang panjang, bermula dari pakaian longgar di Asia Selatan hingga menjadi ikon sleepwear di Barat.
Kata “pijama” berasal dari bahasa Hindi-Urdu pāy-jāma yang berarti “pakaian kaki” dan digunakan di Kekaisaran Ottoman sejak abad ke-13.
Pada era Mughal dan Kesultanan di India, wanita dan pria memakai celana longgar berikat tali pinggang sebagai busana santai sehari-hari maupun malam hari.
Para penjajah Inggris mengadopsi pakaian ini sebagai “lounging attire” pada abad ke-17, menyebutnya “mogul’s breeches” sebelum akhirnya populer sebagai sleepwear di masa Victoria sekitar 1870-an.
Seiring waktu, desain dan bahan piyama berkembang pesat dari katun dan sutra hingga serat sintetis modern menyesuaikan fungsi, tren mode, dan kebutuhan kenyamanan.
1. Asal-Usul dan Etymologi
Pada abad ke-13, istilah pāy-jāma (pāy “kaki” + jāma “pakaian”) sudah dipakai di wilayah Persia dan India untuk celana longgar dengan tali pinggang.
Piyama awalnya bukan khusus pakaian tidur, melainkan busana santai atau pakaian luar yang dikenakan kaum wanita dan pria di lingkungan rumah dan istana.
2. Pengantar ke Dunia Barat
2.1 Abad ke-17: Mogul’s Breeches
Jean de Thévenot, penjelajah Perancis, mencatat pada 1660-an bahwa orang Portugis di Goa mengenakan “pyjamas” untuk tidur. Di Inggris, celana ini disebut “Mogul’s breeches” dan dipakai sebagai pakaian rumah tetapi belum menjadi mode tidur umum.
2.2 Era Victoria: Sleepwear untuk Pria
Baru pada sekitar 1870, setelah para kolonial Inggris kembali dari India, piyama diadopsi sebagai pakaian tidur pria di Barat. Desainnya berupa set kemeja dan celana panjang dari katun atau sutra, menggantikan baju tidur tradisional.
3. Evolusi Desain dan Bahan
Sejak awal abad ke-20, piyama berkembang menjadi berbagai gaya:
- Set Dua-Potong: Atasan berkancing dan celana panjang/pendek dari katun flanel untuk musim dingin.
- Nightshirt: Kemeja panjang selutut populer bagi wanita dan pria.
- Onesie & Footed Pajamas: Introduksi onesie nyaman untuk anak-anak dan dewasa, sering berbahan fleece.
Bahan juga beragam: sutra halus pada tahun 1920-an, katun katun bercorak di 1950-an, hingga rayon dan viscose pada era pasca-Perang Dunia II. Abad ke-21 menambahkan serat sintetis berteknologi tinggi untuk moisture-wicking dan kontrol suhu.
4. Piyama dalam Budaya Populer
Piyama melekat pada citra relaksasi dan keintiman rumah.
- Film & Televisi: Karakter seperti Dorothy di The Wizard of Oz (1939) mempopulerkan nightgown dan piyama set klasik.
- Moda Kontemporer: Palazzo pajama dan slip pajama jadi tren glam di karpet merah 1960-an, dipopulerkan oleh desainer Irene Galitzine dan selebritas seperti Barbra Streisand.
5. Tren Terkini dan Masa Depan
Tren piyama terkini menekankan:
- Sleepwear Pintar: Piyama dengan sensor tidur terintegrasi.
- Sustainable Fabrics: Bambu, Tencel, dan kapas organik ramah lingkungan.
- Gender-Neutral Designs: Potongan unisex yang longgar dan minimalis.