RadarBanyuwangi.id - Guling dikenal di Indonesia sebagai ‘guling’ atau secara kolonial sebagai ‘Dutch wife’ memiliki sejarah panjang yang bermula ribuan tahun lalu.
Bentuk guling yang panjang dan sempit pertama kali tercatat di Peradaban Kuno di Mesir, Yunani, dan Romawi sebagai penopang kepala dan punggung saat duduk atau tidur.
Di Asia Tenggara, khususnya di Nusantara, guling tradisional banyak dibuat dari bambu atau rotan dan diisi kapuk, lalu dikenal luas sejak era kolonial Belanda dengan sebutan Dutch wife.
Istilah “bolster” sendiri berasal dari Bahasa Inggris Kuno belg (“kantong”) yang digunakan sebelum abad ke-12.
Dari peran fungsional sebagai pelindung tubuh hingga fungsi psikologis sebagai comfort object, guling telah berevolusi menjadi elemen penting dalam budaya tidur berbagai masyarakat.
1. Asal-Usul di Peradaban Kuno
Bentuk awal bolster telah ditemukan dalam seni dan literatur Mesir Kuno di mana lembar papirus menggambarkan bangsawan menggunakan bantal panjang untuk menopang leher saat tidur serta di Yunani dan Romawi, sebagai bantal pada kursi dan tempat tidur mewah.
Fungsi utamanya: meningkatkan kenyamanan dalam posisi semi-reclining, praktik umum di kalangan kelas atas untuk bersantap dan beristirahat.
2. Penyebaran ke Asia Tenggara
Bolster menyebar ke Asia Tenggara melalui jalur perdagangan dan budaya. Di Vietnam dikenal sebagai gối ôm (“guling peluk”), di Filipina dantayan, dan di Indonesia guling atau Dutch wife.
Tradisi membuat guling dari anyaman bambu – disebut “bamboo wife” – mencerminkan adaptasi lokal sebelum kapuk menjadi isi umum. Guling bambu ini tidak hanya menopang tubuh, tetapi juga menghadirkan efek pendinginan di iklim tropis berkat aliran udara melalui anyaman.
3. Istilah dan Ejaan: Dari Belg hingga Guling
Kata “bolster” dalam Bahasa Inggris berasal dari Bahasa Inggris Kuno belg, kata proto-Jermanik yang berarti “kantong” atau “bantal panjang”. Di Indonesia dan Malaysia, istilah lokal seperti guling atau bantal peluk mengacu pada fungsi “dipeluk” saat tidur.
Penamaan “Dutch wife” muncul pada masa kolonial Belanda, yang diperkirakan melihat guling bambu sebagai alternatif “istri” penenang saat suami dinas jauh.
4. Evolusi Bahan dan Desain
Seiring waktu, isi guling bertransisi dari bambu dan kapuk alami ke bahan sintetis seperti fibre, busa memori, dan lateks. Guling modern kini sering diberi sarung dengan resleting, memudahkan pencucian, serta varian air pillow yang memungkinkan pengguna menyesuaikan kekenyalan dengan menambah atau mengurangi air. Inovasi ini mempertahankan fungsi ergonomis sekaligus menambah durabilitas dan kemudahan perawatan.
5. Fungsi Sosial dan Psikologis
Di banyak budaya, memeluk guling saat tidur memberikan rasa aman dan nyaman mirip dengan peran comfort object pada anak-anak karena guling mengisi kekosongan di sisi tubuh saat tidur miring.
Penelitian modern juga menunjukkan bahwa memeluk guling dapat meningkatkan produksi hormon oksitosin, menurunkan kecemasan, dan memperbaiki kualitas tidur. (*)
Editor : Ali Sodiqin