RadarBanyuwangi.id - Tanaman murbei mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun buah kecil berwarna merah keunguan ini sebenarnya telah lama dikenal sebagai tanaman berkhasiat.
Murbei dikenal juga dengan nama latin Morus alba, dan asal-usulnya bisa ditelusuri hingga ribuan tahun lalu.
Murbei pertama kali dibudidayakan di kawasan Asia Timur, terutama di Tiongkok. Di sana, murbei menjadi tanaman penting dalam industri peternakan ulat sutera.
Daun murbei merupakan satu-satunya makanan utama bagi ulat sutera, yang menghasilkan benang sutera berkualitas tinggi. Karena itulah, tanaman ini dulunya sangat dihargai dan hanya digunakan oleh kalangan tertentu.
Seiring waktu, murbei menyebar ke berbagai negara, termasuk Jepang, Korea, hingga ke wilayah Asia Tenggara, seperti Indonesia.
Penyebarannya ke berbagai negara terjadi melalui jalur perdagangan, pertukaran budaya, dan ekspedisi kerajaan di masa lampau.
Di setiap tempat yang dituju, murbei tumbuh dengan baik dan akhirnya mulai dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, bukan hanya untuk pakan ulat sutera.
Di Indonesia sendiri, murbei tumbuh subur di dataran tinggi dengan iklim sejuk. Buah dan daunnya mulai dikenal luas karena kandungan nutrisinya.
Daun murbei kini banyak dijadikan teh herbal, sedangkan buahnya dikonsumsi langsung atau diolah menjadi selai dan sirup.
Meski ukurannya kecil, tanaman murbei menyimpan sejarah panjang dan manfaat besar. Dari bahan makanan ulat sutera, kini murbei menjadi salah satu tanaman herbal yang diperhitungkan karena kaya antioksidan dan baik untuk kesehatan.
Asal-usulnya yang menarik menjadikan murbei tidak sekadar tanaman biasa, melainkan warisan alam yang terus memberi manfaat hingga hari ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin