RadarBanyuwangi.id - Sejak abad ke-17, tanaman anggrek di Indonesia menarik perhatian ilmuwan Eropa dan lokal berkat keanekaragaman spesiesnya. Catatan awal diperoleh oleh botanis dan penjelajah VOC, Georg Eberhard Rumphius, yang mendokumentasikan flora Maluku dalam Herbarium Amboinense pada 1690.
Kemudian, Carl Linnaeus mengadopsi taksonomi anggrek Indonesia dalam Species Plantarum (1753). Pada 1817, botanis Blume menamai Phalaenopsis amabilis atau Anggrek Bulan, yang kemudian ditetapkan sebagai puspa pesona lewat Keppres No.4/1993.
Seiring waktu, anggrek Indonesia bertransformasi dari objek studi botani menjadi komoditas ekspor dan hias, dengan lebih dari 5.000 spesies tercatat di nusantara.
Awal Pengetahuan dan Penemuan Spesies
Anggrek telah ada di hutan tropis Indonesia selama jutaan tahun, namun catatan tertulis pertama muncul dari buku Herbarium Amboinense karya Rumphius pada tahun 1690, yang mencakup sekitar 1.200 spesies, termasuk anggrek endemic seperti Paphhiopedilum dayanum dari Kalimantan.
Rumphius, yang tiba di Ambon pada 1654, mengamati dan mencatat flora lokal meski mengalami kebutaan total pada 1670. Ia menamai beberapa anggrek untuk menghormati istrinya, Susanna, sebagai bukti sumbangsihnya dalam penelitian.
Klasifikasi Linnaeus dan Nama Ilmiah
Pada 1753, Carl Linnaeus mencantumkan Clitoria ternatea dan mengklasifikasikan anggrek Indonesia lainnya dalam karyanya Species Plantarum, meski fokus utamanya adalah bunga telang, taksonomi anggrek juga mendapat tempat.
Sebelumnya, pada 1796–1862, Karl Ludwig Blume, botanis kelahiran Jerman-Belanda, mempublikasikan banyak spesies anggrek Maluku, termasuk Phalaenopsis amabilis, yang kemudian dikenal sebagai Anggrek Bulan dan tumbuh epifitik pada pohon-pohon di hutan tropis.
Pengakuan Nasional dan Konservasi
Pemerintah Indonesia resmi menetapkan Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona nasional melalui Keppres No.4/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/1993, menandai upaya konservasi dan promosi keanekaragaman flora negara.
Saat ini, program reintroduksi anggrek endemik seperti Papilionanthe hookeriana di habitat aslinya terus dilakukan untuk memulihkan populasi yang menurun akibat perambahan hutan.
Perkembangan Budidaya dan Industri
Sejak awal 2000-an, budidaya anggrek komersial berkembang pesat dengan fokus pada Dendrobium, Cattleya, dan Vanda. Pada 2015, data Pusat Data Pertanian mencatat ratusan ribu tanaman anggrek diproduksi untuk ekspor, terutama ke Eropa dan Asia Timur.
Indonesia juga menjadi tuan rumah pameran anggrek internasional tahunan, memamerkan koleksi varietas langka dan hibrida unggulan. (*)
Editor : Ali Sodiqin