RadarBanyuwangi.id - Kelengkeng (Dimocarpus longan) merupakan buah tropis yang digemari masyarakat Indonesia karena rasa manisnya yang khas dan tekstur daging yang lembut.
Saat ini, terdapat berbagai varietas kelengkeng yang dibudidayakan di Indonesia, masing-masing dengan karakteristik unik dari segi ukuran buah, ketebalan daging, ukuran biji, hingga kecepatan masa panen.
1. Diamond River
Varietas ini dikenal karena cepat berbuah, yaitu dalam waktu 12-24 bulan setelah tanam. Buah berukuran sedang, berdaging tebal dan berair, dengan rasa manis dan aroma menyegarkan. Cocok untuk dataran rendah hingga menengah.
2. Pingpong
Dinamakan demikian karena ukuran buahnya menyerupai bola pingpong (4-5 cm). Kulitnya tipis, berwarna cokelat muda. Dagingnya manis meski bijinya relatif besar, sehingga rasio daging terhadap biji sedikit lebih rendah.
3. Ruby Longan (Kelengkeng Merah)
Ruby memiliki tampilan menarik dengan kulit merah keunguan dan daun berwarna serupa. Buah berdiameter 1,5-3 cm, berdaging padat dan manis. Daya tarik utamanya adalah kemampuan berbuah sepanjang tahun dalam iklim tropis Indonesia.
4. Matalada (Hawae)
Cocok ditanam di dataran rendah, varietas ini mampu berbuah dalam 9-12 bulan. Buah berukuran sedang, biji kecil, daging tebal, dan rasa manis yang lembut. Matalada sangat digemari oleh petani karena kecepatan panennya.
5. Aroma Durian (Kelengkeng Mata Naga)
Keunikan utama varietas ini terletak pada aromanya yang menyerupai durian. Kulit tipis, daging agak kering namun manis kuat. Kemampuan berbuah sepanjang tahun menjadi keunggulan tersendiri.
6. New Kristal
Tahan terhadap perubahan cuaca dan cocok di dataran tinggi maupun rendah. Buah berwarna cokelat terang, berdaging tebal dan berair, dengan biji kecil. Panen pertama bisa dilakukan pada usia 12-18 bulan.
7. Puangray
Varietas ini dikenal karena ketahanannya terhadap hama dan penyakit. Buah berukuran besar dengan daging tebal. Namun, panen baru bisa dilakukan setelah 2 tahun masa tanam.
8. Itoh
Merupakan hasil persilangan antara Diamond River dan Puangray. Memiliki produktivitas tinggi, hingga 12 kg per pohon per musim. Daging tebal, biji kecil, namun masa panen cukup lama, yaitu 3-3,5 tahun setelah okulasi.
9. Kinglong
Dikenal sejak awal 2000-an di Indonesia, Kinglong memiliki ukuran buah yang besar, daging tebal, dan biji kecil.
Waktu panen dimulai sekitar 18 bulan pasca tanam. Varietas ini populer di kalangan pembudidaya karena bentuk buahnya yang impresif.
10. Varietas Lokal: Batu, Selarong, dan Mutiara
Tiga varietas ini dibudidayakan secara tradisional di beberapa wilayah Indonesia bagian timur, seperti Papua dan Maluku.
Walau belum dikomersialkan secara luas, kelengkeng lokal ini memiliki adaptasi lingkungan yang kuat serta cita rasa khas yang potensial dikembangkan.
Indonesia memiliki kekayaan varietas kelengkeng dengan karakteristik unik yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan lahan, iklim, serta tujuan budidaya.
Mulai dari yang cepat panen seperti Matalada, hingga yang eksotis seperti Ruby dan Aroma Durian, semuanya menawarkan peluang besar untuk dikembangkan baik oleh petani maupun pelaku agribisnis. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi