Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Budidaya Alpukat Wina, Peluang Emas di Lereng Semarang

Bayu Shaputra • Sabtu, 10 Mei 2025 | 17:15 WIB
Alpukat Wina (YouTube Botanical sahabat tani).
Alpukat Wina (YouTube Botanical sahabat tani).

RadarBanyuwangi.id - Alpukat Wina, varietas lokal unggulan dari Indonesia, telah menarik perhatian para pecinta buah dengan ukuran jumbo dan rasa yang khas.

Dikembangkan pertama kali di Desa Jetis, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, alpukat ini menjadi simbol keberhasilan petani lokal dalam menghasilkan buah berkualitas tinggi.

Baca Juga: 5 Macam Ubi Jalar yang Populer untuk Ubi Panggang atau Bakar

Asal-Usul dan Pengembangan

Desa Jetis, yang terletak di ketinggian 200–1.000 meter di atas permukaan laut, menawarkan kondisi ideal untuk budidaya alpukat Wina.

Tanaman ini mulai berbuah pada usia 3–4 tahun dan mampu menghasilkan hingga 100 kilogram buah per pohon setiap tahunnya.

Keunggulan ini menjadikan alpukat Wina sebagai pilihan menarik bagi para petani di wilayah tersebut.

Alpukat Wina dikenal dengan ukuran buahnya yang besar, mencapai berat 1,3 hingga 1,8 kilogram per buah.

Daging buahnya tebal, berwarna kuning seperti alpukat mentega, dengan tekstur lembut tanpa serat dan rasa gurih manis yang khas.

Daunnya memanjang sekitar 12–25 cm, dan bunganya berwarna hijau kekuningan dengan ukuran 5–10 mm.

Buah yang matang ditandai dengan kulit berwarna tua namun tidak mengkilap, serta bunyi khas saat digoyang akibat tumbukan antara biji dan daging buah.

Potensi Ekonomi dan Budidaya

Budidaya alpukat Wina menawarkan peluang ekonomi yang menjanjikan. Dengan perawatan yang tepat, satu pohon dapat menghasilkan buah senilai hingga Rp7 juta per musim panen.

Petani di Bandungan telah mulai memasarkan alpukat Wina ke berbagai daerah, dan permintaan dari luar negeri pun mulai berdatangan. Namun, kesiapan untuk ekspor masih dalam tahap pengembangan. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Sejarah alpukat wina di Indonesia