Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

MiKi, Alpukat Lokal dengan Cita Rasa Internasional

Bayu Shaputra • Sabtu, 10 Mei 2025 | 09:15 WIB
Alpukat MiKi (YouTube AGROPEDIA).
Alpukat MiKi (YouTube AGROPEDIA).

RadarBanyuwangi.id - Alpukat MiKi, varietas unggulan yang kini dikenal luas di Indonesia, memiliki kisah menarik yang bermula dari Kota Depok.

Dikembangkan oleh Haji Yunus Junaidi sejak tahun 2004, alpukat ini merupakan hasil dari penelitian panjang yang melibatkan kolaborasi dengan tim dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Nama "MiKi" sendiri merupakan akronim dari nama kedua orang tua Haji Yunus, yaitu Miah dan Kinan, sebagai bentuk penghormatan kepada mereka.

Asal-Usul dan Pengembangan

Alpukat MiKi awalnya merupakan hasil penangkaran dari alpukat Cipedak, sebuah varietas yang tumbuh di Kelurahan Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Melalui proses seleksi dan perbanyakan yang cermat, Haji Yunus berhasil mengembangkan alpukat dengan karakteristik unggul, seperti daging buah yang tebal, berwarna kuning cerah, tekstur lembut tanpa serat, serta rasa manis dan gurih.

Keunggulan lainnya adalah pohonnya yang tahan terhadap serangan hama dan mampu berbuah pada usia tanam yang relatif muda, sekitar 3 hingga 4 tahun.

Penyebaran dan Popularitas

Sejak diperkenalkan, alpukat MiKi telah menarik perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat umum. Pada tahun 2017, alpukat ini memenangkan Lomba Buah Unggul Nusantara, yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai varietas unggulan.

Bahkan, pada Hari Gerakan Tanam Cabai Se-Indonesia tahun 2024, Ibu Negara Iriana Joko Widodo turut menanam benih alpukat MiKi di Bogor, menandakan dukungan terhadap pengembangan varietas lokal.

Budidaya alpukat MiKi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi Haji Yunus dan keluarganya, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat luas.

Dengan produksi bibit mencapai 1.000 hingga 2.000 pohon per bulan dan omzet sekitar Rp100 juta, usaha ini telah menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Selain itu, Haji Yunus aktif memberikan pelatihan kepada masyarakat melalui Bimbingan Teknik (Bimtek) Alpukat MiKi, yang mencakup pemetaan lahan, teknik penanaman, pemupukan, hingga perawatan pohon. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Sejarah alpukat MiKi di Indonesia