RadarBanyuwangi.id - Jahe (Zingiber officinale) bukan sekadar bumbu dapur yang memberi sensasi hangat pada masakan.
Di balik aromanya yang khas, tersimpan sejarah panjang yang membentang dari Asia Tenggara hingga ke penjuru dunia. Mari kita telusuri perjalanan rempah ini yang telah mewarnai berbagai peradaban.
Dipercaya berasal dari Asia Tenggara, khususnya wilayah yang kini dikenal sebagai India dan Tiongkok, jahe telah digunakan sejak ribuan tahun lalu dalam pengobatan tradisional dan kuliner.
Masyarakat Austronesia membawa jahe dalam perjalanan mereka melintasi Samudra Pasifik, menjadikannya bagian penting dalam budaya dan pengobatan di berbagai pulau yang mereka huni.
Catatan tertulis pertama tentang jahe ditemukan dalam teks Analek Konfusius di Tiongkok sekitar 500 SM, di mana jahe disebut sebagai bagian penting dalam setiap hidangan.
Di India, jahe telah digunakan dalam pengobatan Ayurveda selama lebih dari 2.500 tahun.
Melalui jalur perdagangan rempah-rempah, jahe menyebar ke Timur Tengah dan Eropa. Pada abad ke-1 M, pedagang membawa jahe ke wilayah Mediterania.
Di Eropa abad pertengahan, jahe menjadi komoditas berharga; setengah kilogram jahe bisa setara dengan harga seekor domba.
Jahe di Dunia Modern
Hingga kini, jahe tetap menjadi rempah yang populer di seluruh dunia. India merupakan produsen jahe terbesar, diikuti oleh Tiongkok dan Nigeria.
Jahe digunakan dalam berbagai bentuk, mulai dari segar, kering, bubuk, hingga ekstrak, dan menjadi bahan penting dalam kuliner, minuman, serta pengobatan tradisional dan modern. (*)
Editor : Ali Sodiqin