Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tak Bisa Ngerem Mendadak, Ini Alasanmu Harus Sabar Menunggu Kereta Api Melintas di Perlintasan Sebidang

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 8 Mei 2025 | 18:23 WIB
PORTAL BARU: Kereta api melintas di perlintasan sebidang Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.
PORTAL BARU: Kereta api melintas di perlintasan sebidang Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Sudah menjadi keharusan bagi pengguna jalan untuk mendahulukan perjalanan kereta api saat melintasi perlintasan sebidang.

Namun, aturan tersebut nyatanya masih tetap dilanggar, meskipun risikonya besar. Terburu-buru kerap menjadi alasan pengguna jalan mengabaikan keselamatannya.

Di balik lamanya pengguna jalan yang harus menunggu kereta api melintas, rupanya ada penjelasan ilmiahnya. Kereta api tidak bisa berhenti mendadak, bahkan saat dalam kondisi darurat. Apa sebabnya?

Sebuah rangkaian kereta api terdiri atas satu lokomotif yang menarik antara 8 hingga 12 kereta penumpang. Satu kereta sendiri dapat menampung dari 50 hingga 106 orang.

Jika dikalkulasikan secara keseluruhan, bobot total rangkaian bisa mencapai 6.000 ton. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan kendaraan darat lainnya, sehingga membutuhkan energi dan jarak yang lebih panjang untuk berhenti secara total.

Semakin panjang dan berat rangkaiannya, semakin besar energi kinetik yang dihasilkan ketika bergerak. Energi inilah yang harus dilawan oleh sistem pengereman agar kereta api dapat berhenti.

Tidak seperti mobil yang menggunakan sistem pengereman hidraulik, kereta api menggunakan dua sistem pengereman utama yakni pengereman balok dan pengereman udara.

Pengereman balok bekerja dengan menekan balok rem ke roda, menciptakan panas dan gesekan untuk memperlambat laju.

Sedangkan pengereman udara menggunakan tekanan udara yang disalurkan melalui pipa sepanjang rangkaian untuk mengaktifkan sistem rem di setiap gerbong.

Meskipun terdapat fitur rem darurat, fungsinya bukan untuk menghentikan kereta api secara instan, melainkan untuk menambah tekanan udara agar kereta melambat lebih cepat. Namun tetap saja, jarak yang dibutuhkan untuk berhenti masih sangat panjang.

Jika kereta melakukan pengereman mendadak, gaya inersia yang besar bisa mengakibatkan ketidakseimbangan, membuat penumpang dan muatan dalam gerbong terlempar.

Selain itu, tekanan mendadak pada sistem roda dan rel dapat menyebabkan kecelakaan yang fatal.

Menurut data dari portal Indonesia Baik, berikut adalah estimasi jarak yang dibutuhkan kereta api untuk berhenti, berdasarkan kecepatannya:

Data ini menegaskan bahwa meskipun kereta api memiliki teknologi pengereman canggih, prinsip fisika dan keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama dalam operasionalnya. (*)

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Rem Mendadak #perlintasan sebidang #Kereta Api