RadarBanyuwangi.id - Di Laut Tengah, para nelayan lokal memiliki cara unik dan kreatif dalam membuat alat pancing.
Mereka tidak sekadar menggunakan umpan biasa, melainkan menciptakan sendiri umpan yang menyerupai kok bulu tangkis.
Umpan ini dibuat dari bulu ayam pilihan yang dikombinasikan dengan benang berwarna mengkilap.
Kilau benang dipercaya dapat menarik perhatian ikan, terutama di perairan yang dalam dan agak gelap.
Umpan buatan ini kemudian dipadukan dengan kail, lalu diikat erat menggunakan senar pancing. Menariknya, pemilihan senar dan kail sangat disesuaikan dengan jenis ikan yang menjadi target.
Untuk memancing ikan solok, ikan yang dikenal gesit dan agresif, nelayan menggunakan senar nomor 10 yang lebih ramping agar gerakan umpan tampak alami di air.
Sementara itu, untuk ikan telengseng yang berukuran lebih besar dan memiliki daya tarik kuat, digunakan senar nomor 20 yang lebih tebal dan kuat.
"Untuk mancing solok enak nomor 10, kalau telengseng nomor 20," ungkap Suwandi, nelayan lokal Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.
Kail pun disesuaikan, kail nomor 15 untuk ikan solok dan nomor 12 untuk telengseng. Penyesuaian ini sangat penting agar kail bisa menancap dengan sempurna tanpa mudah terlepas saat ikan menggigit umpan.
Teknik tradisional ini diwariskan turun-temurun, dan meski sederhana, efektivitasnya tetap diandalkan hingga kini. (*)
Editor : Lugas Rumpakaadi