RADARBANYUWANGI.ID – Banyuwangi memiliki banyak faktor kerawanan bencana alam yang berpotensi mengancam keberadaan manuskrip dan naskah-naskah kuno yang ada di wilayah ini.
Karena itu, Kamis (24/4) Masyarakat Penaskah Nusantara (Manassa) bersama Unesco menggelar workshop untuk mengajarkan cara untuk merawat dan mencegah kerusakan pada naskah kuno.
Workshop yang digelar di Hotel Luminor Banyuwangi itu dihadiri berbagai elemen yang dianggap berkaitan dengan keselamatan naskah-naskah kuno di Banyuwangi.
Mulai dari Komunitas Pegon, pemilik naskah kuno, peneliti naskah kuno, pelaku mocoan lontar, pelaku digitalisasi manuskrip, perusahaan media Jawa Pos Radar Banyuwangi, pengarep sekolah adat, guru seni budaya, pustakawan, Dewan Kesenian Blambangan, dan jurnalis.
Tak hanya itu, instansi pemerintahan seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Dinas Pendidikan, serta Perpusnas RI dan BRIN juga ikut dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Ketua Umum Manassa Dr. Munawar Holil mengatakan, program ini menjadi yang kedua di Indonesia setelah sebelumnya digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Menurut dia, workshop ini berawal dari kepedulian Manassa terhadap kondisi naskah-naskah kuno di Indonesia yang mengalami banyak persoalan yang membuat kondisinya rusak atau hilang.
Mulai faktor sosial, politik, hingga bencana alam seperti banjir, tsunami, gunung meletus, dan lainnya yang bisa menjadi potensi gangguan kepada puluhan ribu naskah kuno.
Munawar mengatakan, Banyuwangi merupakan salah satu tempat yang memiliki cukup banyak warisan naskah kuno.
Bahkan, ada dokumentasi naskah kuno di Banyuwangi yang masuk kategori Ingatan Kolektif Nasional (Ikon).
”Dengan adanya workshop ini diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk menyelamatkan warisan intelektual dari para leluhur,” tegasnya.
Perwakilan dari Unesco, Anna Lomtadze, melalui siaran video conference mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Manassa untuk memperkuat komitmen menyelamatkan manuskrip penting di Indonesia.
Salah satunya dengan melatih warga lokal untuk bisa mendigitalisasi naskah dan menyelamatkan naskah dengan bahan-bahan yang mudah didapat.
”Semoga topik yang kami sampaikan cocok diterapkan di Banyuwangi, ini penting karena kita berharap apa yang ada di naskah kuno bisa digunakan oleh masyarakat luas di masa mendatang,” tegasnya.
Workshop itu pun mendapat respons positif dari berbagai pihak yang terlibat.
Ketua Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Osing Wiwin Indiarti menjelaskan, naskah kuno bukan hanya berisi cerita dongeng seperti apa yang dikirakan banyak orang.
Di dalamnya ada pengetahuan serta rangkuman lain dari kebudayaan leluhur yang berisi pengalaman jiwa manusia dari masa lalu dan banyak dari isi itu yang masih relevan hingga saat ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Banyuwangi Zen Kostolani mengatakan, pemkab sangat mengapresiasi kegiatan yang memberikan perhatian pada warisan budaya tersebut.
Zen juga mengatakan, setidaknya ada 74 manuskrip lama di Banyuwangi yang belum seluruhnya tertranskrip dengan baik.
”Harapannya, banyak ilmu yang bisa diambil setelah kegiatan ini. Sehingga manuskrip yang ada bisa terjaga dan tertranskrip dengan baik,” pungkasnya. (fre/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin