RADAR BANYUWANGI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi, telah menghentikan penggunaan susu perah murni dalam menu mereka.
Keputusan ini diambil akibat keterbatasan stok harian susu sapi perah dan risiko pembusukan yang ditimbulkan oleh bakteri ketika susu terpapar udara terlalu lama.
Tiara Chandra, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Wilayah Rogojampi, menjelaskan bahwa uji coba penyertaan susu dalam menu MBG hanya berlangsung selama tiga hari, sejak program dimulai pada 3 Februari lalu.
"Mulai tanggal 6 Februari, menu MBG selanjutnya sudah tidak lagi menyertakan susu sapi perah," ungkap Tiara dalam wawancara dengan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi pada Selasa (25/2).
Sebagai pengganti kandungan protein dalam susu, ahli gizi di dapur umum MBG merekomendasikan berbagai alternatif, seperti telur, daging, tempe, tahu, dan makanan bergizi lainnya.
Tiara menjelaskan bahwa penggunaan susu UHT atau susu kemasan tidak disarankan karena kandungan gula yang tinggi dan adanya pemanis serta pengawet yang tidak sesuai dengan standar gizi yang ditetapkan.
"Susu kemasan itu kandungan gulanya terlalu tinggi. Jadi tidak baik, tidak recommended," tegasnya.
Meskipun kebijakan ini sempat menuai protes kecil dari para murid, Tiara menjelaskan kepada para guru mengenai hasil evaluasi selama uji coba.
Dengan penjelasan tersebut, para guru dapat membantu menyampaikan kondisi ini kepada murid-murid.
Di sisi lain, penggunaan susu kemasan juga berpotensi menambah masalah lingkungan. Dapur umum MBG saat ini menjangkau 2.915 murid setiap harinya, dan penggunaan susu kemasan akan menghasilkan ribuan sampah.
"Banyak pertimbangan mengapa tidak menggunakan susu kemasan. Selain glukosa, ini bisa menyumbang sampah setiap harinya. Fokusnya gizi, kita malah downgrade jika pakai susu kemasan," jelas Tiara.
Amir Hidayat, Plt Dinas Kesehatan Banyuwangi, mengaku telah melakukan inspeksi secara bertahap, termasuk pengawasan langsung terhadap proses produksi MBG di dapur.
Ia mengapresiasi langkah yang diambil oleh pihak dapur umum MBG untuk tidak menggunakan susu kemasan sebagai pengganti susu sapi perah.
"Lebih bagus jika tidak pakai susu kemasan, apalagi yang rasa-rasa. Sejauh ini kami terus lakukan pengawasan dari tim Dinas Kesehatan bersama Puskesmas Gitik dan Labkesda secara berkala," kata Amir.
Keputusan ini diharapkan dapat menjaga kualitas gizi yang diberikan kepada anak-anak dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. (*)
Editor : Ali Sodiqin