Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Seruan Study Tour Dalam Kota Banyuwangi Terkendala Oknum Cari Cashback Perjalanan Wisata

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 3 Februari 2025 | 17:11 WIB
Rombongan siswa salah satu sekolah di Banyuwangi menghafal Al-Qur’an di Capas Adventure Land yang berlokasi di Desa Paspan, Kecamatan Glagah, pekan lalu.
Rombongan siswa salah satu sekolah di Banyuwangi menghafal Al-Qur’an di Capas Adventure Land yang berlokasi di Desa Paspan, Kecamatan Glagah, pekan lalu.

RadarBanyuwangi.id - Sejak tiga tahun lalu Pemkab Banyuwangi telah mengeluarkan kebijakan terkait study tour bagi siswa.

Isi kebijakan tersebut adalah sebaiknya study tour dilakukan di sejumlah destinasi wisata lokal saja. Dengan menikmati wisata lokal diharapkan bisa meningkatkan kunjungan wisatawan.

Ada beberapa keuntungan jika siswa melakukan study tour di daerahnya sendiri. Di antaranya akomodasi dan transportasi lebih mudah. Dari sisi biaya, pastinya jauh lebih murah dibandingkan pergi ke luar kota.

Melakukan study tour di dalam kota juga lebih efisien karena tidak mesti harus menggunakan bus besar untuk mengangkut seluruh siswa.

Sebaliknya, cukup memakai kendaraan pribadi atau kendaraan kecil. Sekolah bisa menata siswa dengan kelas-kelas tertentu untuk mengikuti study tour di lokasi yang sudah ditentukan.

”Kalau keluar kota biasanya harus menggunakan bus dan bersama-sama. Berwisata di dalam kota lebih fleksibel,” ujar Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi Ainur Rofiq.

Untuk mendukung kebijakan tersebut, kata Rofiq, perlu dilakukan beberapa langkah persiapan supaya study tour berjalan lancar.

Mulai dari perbaikan infrastruktur menuju destinasi wisata hingga peningkatan pengamanan. Antara lain perlu ada pengawas di destinasi pemandian seperti kolam renang dan pantai.

Selain itu, perlu ada penambahan rambu larangan untuk titik-titik berbahaya dan rawan.

”Pelatihan untuk life guard sudah ada di beberapa destinasi air. Kalau terkait infrastruktur, kami sudah koordinasi dengan PU Bina Marga. Langkah ini untuk menciptakan keamanan,” kata Rofiq

Selanjutnya, fasilitas pendukung wisata edukasi juga perlu ditingkatkan. Sebab, tren wisata siswa berbeda dengan wisata keluarga atau perorangan.

Untuk lokasi, sekolah memiliki banyak pilihan. Seperti Pusat Informasi  Geologi Ijen (PIGI)/Museum Blambangan, Pendapa Sabha Swagata, Kawah Ijen, Pantai Boom, GWD, dan destinasi lainya.

”Ketika study tour dipindah ke dalam kota, pasti akan meningkatkan nilai ekonomi. Perputaran uang yang biasanya lari ke luar daerah, bisa berputar di Kabupaten Banyuwangi,” imbuh Rofiq.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Banyuwangi Andika Rahmat Hidayat mengatakan, harus ada inovasi tambahan dari pembuat kebijakan dan pelaku wisata di Banyuwangi. Sebab, study tour siswa membutuhkan experience yang menjadi inti dari perjalanan wisata siswa,

”Mungkin bisa ditambah destinasi edukasi. Desa-desa destinasi wisata tidak hanya satu lokasi. Seperti di Jopuro misalnya, tidak hanya melihat pemandian, tapi juga tahu aktivitas masyarakat di sana,” jelasnya.

Selain itu, dengan adanya destinasi berbasis desa, siswa bisa memilih tipe pariwisata live in. Sehingga mereka tak hanya datang untuk berwisata, tapi juga tinggal di desa tersebut.

Ada banyak desa di Banyuwangi yang memiliki kekhasan sendiri. Seperti Desa Grogol dan sekitarnya yang menjadi penghasil rempah.

Selanjutnya, Desa Kemiren, Olehsari, Glagah, dan Tamansuruh dengan budayanya.

”Kebijakan ini akan mendukung munculnya destinasi wisata edukasi baru. Semakin banyak semakin baik untuk sekolah. Tinggal nanti pihak sekolah mau atau tidak. Biasanya masih ada oknum yang mencari cashback untuk perjalanan wisata,” kata Andika. (fre/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#pendidikan #study tour #siswa #wisatawan #cashback #Destinasi Wisata #banyuwangi