RadarBanyuwangi.id – Membaca judul diatas, bagaimana bisa hanya dengan kulit buah Nanas, tim Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara) Jawa Timur bisa meraih penghargaan tertinggi Gold Medal.
Ajang Global Youth Invention and Innovation Fair (GYIIF) yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) bekerja sama dengan Indonesian Young Scientist Assocation (IYSA) pada tanggal 11 hingga 14 Januari lalu. Ajang ini dilaksanakan secara hybrid dengan puncak acara di kampus IPB Bogor.
Sebanyak 154 tim finalis dari 11 negara. Dan salah satu finalisnya adalah tim Smadatara yang beranggotakan Felix Maulana S. (XII-1), Cornelius Rolando S. (XII-1), Ghani Anargya S (XII-1), Mehaga Qhusni F. (XI-2) dan Nadya Putri J. (X-1).
Untuk kategori Life science, tim di bawah asuhan Mujib ini mengusung judul penelitian LARVEX – Larvae Extermination With Eco-enzyme, An innovative Eco-enzyme Solution Made From Pineapple Peel and Core Waste As Extermination Agent For The Aedes aegyoti Larvae.
Tim Smadatara menyimpulkan pada penelitian bahwa eco-enzyme yang berbahan dasar kulit dan bonggol Nanas terbukti sangat efektif dalam membunuh larva nyamuk Aedes aegypti. Cukup dengan kadar paling efektif 10 % larva-larva nyamuk akan mati dan bisa memutus rantai kehidupan nyamuk.
Menggunakan bahan dasar buah Nanas bukan asal pilih, tetapi menurut tim Indonesia menghasilkan 3 juta buah Nanas pertahun. Dan 50 persennya menghasilkan limbah berupa kulit dan bonggol. Yang artinya kulit dan bonggol tersebut terbuang dan belum dimanfaatkan maksimal. Sementara di Banyuwangi, dimana Smadatara berdomisili, limbah kulit dan bonggol buah Nanas melimpah dan mudah didapatkan.
Hasil penelitian tersebut tidak hanya bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, tetapi juga menghasil prestasi yang super keren. Yakni tim Smadatara berhasil membawa pulang Gold Medal dalam ajang GYIIF ke tiga di kampus IPB Bogor pada Selasa (14/1/2025).
Kepala Smadatara Jawa Timur, Mujib sangat mengapresiasi kerja keras tim bersama dengan guru pembimbing dan pengasuh dalam meraih prestasi ini. “Penelitian ini sudah kali kedua mendapatkan penghargaan,” ujar Mujib.
Yang pertama pada ajang Nala Technology and Science Competition (Nalatico) pada November tahun lalu, dan yang kedua di ajang GYIIF oleh IPB ini, lanjut Mujib. Semoga hasil karya anak didiknya tidak sekedar tercatat menjadi prestasi saja, tetapi bisa diperuntukkan bagi kehidupan nyata di masyarakat.
Untuk itu, imbuh Mujib, Smadatara membuka pintu bagi pihak-pihak, baik pemerintah maupun swasta yang ingin menindaklanjuti hasil penelitan anak didiknya. (*)
Editor : Ali Sodiqin