Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ditulis 79 Penyair Banyuwangi, Buku Antologi Puisi Hebat Bersama Umat Panen Apresiasi

Redaksi • Rabu, 18 Desember 2024 | 18:05 WIB
Ketua Majelis Kehormatan DKB Samsudin Adlawi menyampaikan materi dalam acara Bedah Buku Hebat Bersama Umat di Hotel Tanjung Asri, Selasa (17/12).
Ketua Majelis Kehormatan DKB Samsudin Adlawi menyampaikan materi dalam acara Bedah Buku Hebat Bersama Umat di Hotel Tanjung Asri, Selasa (17/12).

RadarBanyuwangi.id - Keindahan dan kebermaknaan menjadi hal yang hampir selalu muncul saat membahas puisi.

Namun, dua hal tersebut sering menjadikan kualitas puisi kurang baik dan terkadang juga mengurungkan niat seseorang untuk menulis puisi.

Oleh karena itu, semestinya menulis puisi harus dilakukan secara mengalir.

Sehingga, keindahan dan kebermaknaan puisi akan muncul dengan alamiah. Terlebih, makna merupakan hal yang berperan besar dalam kehidupan masyarakat.

Hal tersebut yang dibahas dalam Bedah Buku Hebat Bersama Umat yang digelar oleh Kelompok Masyarakat Berkah bersama Komunitas Lentera Sastra di bawah naungan Kementerian Agama (Kemenag) Kantor Wilayah Banyuwangi, Selasa (17/12).

Bedah buku yang digelar di Hotel Tanjung Asri sekaligus menandai peringatan anniversary ketiga Komunitas Lentera Sastra.

Sebanyak tiga narasumber dihadirkan untuk membedah buku antologi puisi yang ditulis oleh 79 penyair Banyuwangi ini.

Mereka adalah Ketua Majelis Kehormatan Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Samsudin Adlawi, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Banyuwangi Zen Kostolani, dan Ketua Komunitas Lentera Syafaat.

Turut hadir pula Kepala Kemenag Kantor Wilayah Banyuwangi Chaironi Hidayat, Ketua DKB Hasan Basri, para penyair Banyuwangi, dan para penulis puisi di antologi.

Menurut Syafaat, penulis puisi antologi ini berasal dari beragam elemen. Mulai dari pejabat kantor Kemenag Banyuwang, sastrawan Banyuwangi, ASN, sampai siswa madrasah.

Sehingga, antologi puisi ini juga menggambarkan keharmonisan keberagaman di Indonesia. Terlebih, pemilihan jumlah penyair juga memiliki makna tersendiri.

“Kami mengambil angka 79 karena kebetulan tahun ini HUT RI juga ke-79 dan Hari Amal Bhakti yang ke-79. Semoga bisa memberikan manfaat untuk kehidupan berbangsa dan bernegara yang hebat dan bermartabat,” tandasnya.

Buku antologi puisi ini diapresiasi oleh Samsudin Adlawi. Dia bahkan membagi puisi-puisi yang terkumpul menjadi tiga kategori, yakni “hebat, agak hebat, dan kurang hebat”. Sehingga, perlu dipertanyakan mengenai keharusan indah dan kebermaknaan sebuah puisi.

Samsudin menegaskan, keindahan dan kebermaknaan sebuah puisi hanya dapat muncul melalu proses penulisan yang mengalir. Menurutnya, puisi terdiri atas dua hal, yakni sari pemikiran dan pati perasaan, yang dikemas dengan diksi khusus.

“Jadi puisi itu pikiran yang berberasaan dan perasaan yang berpikiran. Kalau sudah begitu, maka keindahan dan kebermaknaan puisi akan muncul dengan sendirinya. Tapi jangan dari awal terpaku dengan itu, melainkan mengalir saja agar bisa muncul sendiri,” papar Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi itu.

Kepala Dispusip Banyuwangi Zen Kostolani menambahkan, makna memang merupakan nyawa dari puisi. Oleh karena itu, dia mengapresiasi buku antologi yang diterbitkan.

Selain sebagai pendongkrak iklim literasi Banyuwangi, sebuah buku puisi juga dapat menyampaikan makna secara tersirat.

“Sebuah makna akan memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat. Oleh karena itu, saya yakin makna yang disampaikan dalam puisi di buku ini sesuai judulnya, yaitu hebat dan akan membuat masyarakat hebat juga,” tandasnya. (cw1/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#bedah buku #kemenag banyuwangi #Antologi Puisi