RadarBanyuwangi.id – Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara) Jawa Timur sekolah yang menggabungkan kurikulum merdeka dengan ke-samaptaan.
Yang bertujuan untuk membuat output siswa menjadi lebih dari sekolah lain.
Diantaranya lebih mandiri, lebih berkarakter dan tentu saja lebih berprestasi.
Tetapi semuanya itu dirasa belum cukup, akan lebih utama apabila siswa juga memiliki kewirausahaan yang handal.
Untuk itu Smadatara melakukan audensi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi tentang program yang segera diwujudkan.
Audensi tersebut dilaksanakan di ruang rapat Sekretaris Daerah (Sekda) Banyuwangi pada (21/10).
Rombongan Smadatara yang terdiri dari Kepala Sekolah, Komite, Wakil Kepala Sekolah serta Guru Kewirausahaan diterima langsung oleh Dwi Yanto selaku Asisten Pembangunan dan Perekonomian.
Ikut mendampingi pula Dinas Pertanian, Pertenakan dan Ketahanan Pangan Banyuwangi dan Dinas Perikanan Banyuwangi.
Mujib selaku Kepala Smadatara menjelaskan program kewirausahaan siswa dengan dasar ketersediaan lahan yang masih luas.
Selain itu semua siswa atau taruna Smadatara yang berjumlah 691 orang tinggal di asrama.
Masih menurut Mujib, digandengnya Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan serta Dinas Perikanan Banyuwangi untuk memberikan Training of Trainer (ToT) kepada guru dan pengasuh taruna yang selanjutnya pendampingan dan pengontrolan rutin terhadap program kewirausahaan ini.
“Sayuran Hidroponik, Ternak Ayam dan Perikanan air tawar menjadi bidang yang segera diwujudkan.” Ujar Mujib.
Dipilihnya tiga bidang tersebut karena selain memiliki nilai ekonomis juga tidak memakan waktu lama untuk masa panen.
Sementara Dwi Yanto, sangat setuju dan mendukung program yang digagas oleh Smadatara.
Dwi Yanto mengharapkan dinas terkait untuk langsung melakukan tindak lanjut dan wujud nyata berjalannya program kewirausahaan di Smadatara.
“Saya kira ini program yang bagus, mungkin baru pertama kali di Jawa Timur.
Dan nantinya, tidak hanya hasil panen saja yang bisa dinikmati, tetapi Smadatara bisa menjadi Lokus untuk pembelajaran bagi sekolah lain yang berkunjung.
Editor : Syaifuddin Mahmud