RadarBanyuwangi.id - Komitmen Bumi Hijau Center terhadap lingkungan berbuah manis. Institusi ini berhasil meraih predikat Top 10 dalam ajang Unesco Hamdan Prize for Teacher Development.
Bumi Hijau Center mengintegrasikan pendidikan dan kesadaran lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan.
Sumber daya manusia (SDM) yang bermutu adalah kunci keberhasilan dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals/SDGs).
Dengan SDM berkesadaran lingkungan dan pendidikan berkualitas tinggi, pembangunan dapat dilakukan tanpa khawatir mengorbankan generasi berikutnya.
Gagasan tersebut yang membawa Bumi Hijau Center menyabet predikat sepuluh terbaik alias Top 10 dalam ajang UNESCO Hamdan Prize for Teacher Development. Ajang ini digelar dua tahun sekali sebagai bentuk peningkatan kualitas pendidikan dunia.
Dalam 17 SDGs, pendidikan adalah salah satu aspek yang diprioritaskan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (The United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO).
Pada Kamis sampai Jumat (3–4/10) lalu, Bumi Hijau Center menjadi salah satu wakil Indonesia yang mempresentasikan programnya di Place de Fontenoy, markas besar UNESCO yang terletak di Kota Paris, Prancis.
Bumi Hijau Center yang beralamat di Jalan Parastembok Nomor 1, Kecamatan Sempu ini berhasil lolos menjadi 10 nominasi terbaik bersama institusi-institusi lain dari Bangladesh, Brazil, Togo, Norwegia, Angola, dan China.
Direktur Bumi Hijau Center Sunari membeber latar belakang gagasannya untuk mengintegrasikan pendidikan dan kesadaran lingkungan.
”SDM kita relatif belum bersikap positif terhadap bumi dan lingkungan. Padahal, lingkungan adalah kebutuhan mutlak dan fundamental yang mendasari kesejahteraan hidup manusia dan makhluk lain,” ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya berinovasi dengan membuat program Sekolah Multi-pengembangan (Multi-development School Program).
Program tersebut digagas pada tahun 2019. Bumi Hijau Center ingin menjadikan sekolah sebagai institusi pendidikan yang semakin bernilai dan mencerahkan.
”Pada praktiknya, kami mengupayakan peningkatan kompetensi guru mengenai inovasi pembelajaran untuk pembangunan keberlanjutan,” tutur Sunari yang merupakan mantan Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Non Formal pada Dinas Pendidikan Banyuwangi.
Harapannya, kata Sunari, program ini dapat berdampak positif pada siswa. Cara yang dilakukan antara lain dengan menumbuhkan kemampuan literasi, membangun kemampuan berhitung, meningkatkan motivasi, memenuhi kebutuhan gizi, dan menanamkan kesadaran akan lingkungan.
”Selain itu, program ini juga akan meningkatkan motivasi orang tua, menggalang dukungan publik untuk sekolah, serta meningkatkan keberlanjutan dan kualitas kinerja sekolah,” ujar pria bergelar Magister Manajemen (MM) tersebut.
Sampai saat ini, imbuh Sunari, program tersebut sudah menjaring sebanyak 2.035 guru. Mereka akan terus meningkatkan kompetensi melalui strategi pembelajaran yang inovatif berdasarkan 9 dimensi inti, 6 konten pembelajaran esensial, dan 18 topik fundamental yang diperkenalkan pada tahap awal.
”Hasilnya, proyek ini telah meningkatkan kompetensi dan motivasi sebanyak 24.519 siswa beserta walinya. Kami juga sudah menjangkau 16.280 anggota masyarakat serta berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kinerja yang berkelanjutan di 382 sekolah,” imbuhnya.
Sunari menekankan, aspek pendidikan memang sengaja dipilih sebagai sarana pelestarian lingkungan. Sebab, pendidikan adalah aspek yang menentukan kualitas SDM penerus bangsa.
Sehingga, diharapkan akan muncul kader-kader yang sadar akan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, pihaknya akan terus melakukan upaya pembenahan kualitas SDM.
Untuk mendukung green jobs di masa depan, institusi pendidikan perlu menyuburkan green awareness sehingga dapat mendorong siswa menerapkan praktik keberlanjutan, seperti pengurangan jejak karbon dalam kehidupan sehari-hari melalui aktivitas berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum.
Sekolah-sekolah di Indonesia juga dapat membangun green awareness dengan menguatkan literasi lingkungan dalam kegiatan pembelajaran.
”Anugerah besar dari Allah Yang Maha Kuasa berupa bumi dengan segala potensinya patut disyukuri. Caranya dengan melakukan tindakan yang berkontribusi, nyata, dan berkomitmen. Mari bersama-sama mewujudkan pembangunan bangsa yang berkarakter lingkungan. Jadi, tidak hanya bertumpu pada aspek sosial dan ekonomi, tetapi juga aspek lingkungan. Mari tingkatkan mutu lingkungan kita,” pungkas Sunari. (cw1/sgt/c1)
Editor : Lugas Rumpakaadi