Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perjuangan Keras Taruna-Taruni Smadatara Banyuwangi Lolos Akademi Kepolisian: Galuh Peringkat Pertama, Arsya Tergolong Anak yang Cerdas

Gareta Yoga Eka Wardani • Senin, 12 Agustus 2024 | 04:55 WIB
AKPOL: Dua siswa Smadatara Banyuwangi lolos ke jenjang kepolisian
AKPOL: Dua siswa Smadatara Banyuwangi lolos ke jenjang kepolisian

Radarbanyuwangi.id - Cita-cita tidak akan tercapai tanpa kerja keras, kedisiplinan, dan doa. Selalu berpikir optimistis dan fokus pada tujuan menjadi kunci Galuh Pitaloka dan M. Arshya Mahardicha lolos di tengah ketatnya seleksi Akademi Kepolisian (Akpol).

Galuh Pitaloka dan M. Arshya Mahardicha tercatat sebagai alumni taruna dan taruni SMAN 2 Taruna Bhayangkara (Smadatara) Genteng. Galuh yang berusia 20 tahun merupakan alumnus angkatan pertama (TB1), sedangkan Arshya, 17, lulusan Smadatara angkatan ketiga (TB3).

Taruna dan taruni Smadatara tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi anak kebanggaan keluarga. Galuh merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan suami istri Supardi, 56, dan Tukinika Lestari, 52.

Taruni yang memiliki tinggi badan 165 centimeter itu berasal dari Dusun Krajan, Desa Temuasri, Kecamatan Sempu. Galuh awalnya tumbuh dengan keinginan kuat menjadi dokter.

Namun, takdir mengubah arah hidupnya menuju cita-cita lain yang tak kalah mulia. ”Awalnya saya ingin jadi dokter, tapi seiring waktu pendidikan di Smadatara, tertarik untuk menjadi polisi,” kata Supardi, ayah Galuh.

Saat Smadatara menerapkan kedisiplinan tinggi dan pengasuhan, diam-diam telah menanamkan benih-benih keinginan dalam hati Galuh untuk mengenakan seragam polisi.

”Setelah lulus Smadatara tahun 2022, Galuh mantap dengan keputusannya masuk Akpol,” ujar Supardi.

Keputusannya mengikuti tes Akpol cukup kuat. Saran dari beberapa orang untuk mendaftar lewat jalur Bintara yang mungkin lebih mudah, ditolak semua.

”Pendaftaran pertama di Akpol, Galuh gagal, berada di peringkat ketiga di tingkat provinsi, sementara yang diterima hanya dua,” ujar Supardi, orang tuanya.

Gagal masuk Akpol sempat membuatnya kecewa. Jiwa Galuh terguncang. Menginjak usia 19 tahun, Galuh mulai berusaha daftar Akpol lagi dan belum  berhasil.

”Kekurangan demi kekurangan kembali diperbaiki untuk percobaan pendaftaran Akpol selanjutnya,” timpal sang ibu, Tukinika Lestari.

Selama satu tahun penuh, Galuh mengorbankan masa mudanya. Tak ada nonton, tak ada jalan-jalan dengan teman. Bahkan, naik sepeda motor pun jarang dilakukan demi menjaga keselamatan dan kesehatannya. ”Ketika tahu belum lolos, rasanya campur aduk, tapi itu malah memotivasi lebih semangat lagi,” kata Tukinika.

Di tengah-tengah kesedihan, Galuh menemukan cara untuk terus mengasah diri. Galuh mengikuti les TOEFL dan melatih diri secara fisik.

Galuh memastikan dirinya berada di bawah pengawasan pelatih fisik profesional. ”Sekarang, semuanya terpantau, dari makan sampai berat badan, bahkan target lari pun harus tercapai,” tutur Tukinika.

Keteguhan hati dan kedisiplinan dari seorang Galuh akhirnya membuahkan hasil. Galuh akhirnya berhasil lolos seleksi masuk Akpol menjadi peringkat pertama dari

55 peserta yang mendaftar di Polda Jawa Timur. Keberhasilannya tak hanya membuat bangga keluarga, tetapi juga seluruh kampung halamannya.

”Dia selalu optimistis dan tidak mau berpikir tentang alternatif lain, hanya fokus pada mimpinya. Galuh tidak mau mendengar ucapan negatif, dia selalu menjawab, saya tidak mau yang jelek-jelek, saya mau yang baik-baik dan pasti lolos,” ujar Tukinika menirukan ucapan putri kesayangannya.

Perjuangan hebat juga dirasakan M. Arshya Mahardicha, 17, taruna Smadatara asal Kota Jayapura. Sulung dari dua bersaudara pasangan Iptu Sutokit, 44, dengan Aipda Febriana Dwi Ratnawati, 40, ini berhasil lolos seleksi Akpol setelah lulus dari Smadatara.

”Bersyukur Arshya bisa lolos, karena usaha yang disiapkan untuk mendaftar Akpol sudah dilakukan sejak masih duduk di bangku SD,” ujar sang ayah, Iptu Sutokit.

Arsya sejak belia sudah memiliki keinginan untuk menjadi abdi negara. Berkaca dari profesi kedua orang tuanya, Arshya telah menyiapkan modal sejak kecil dengan meningkatkan nilai akademik dan kemampuan fisik.

”Dari SD, Arshya sudah mencoba yang terbaik dari bidang akademik hingga olahraga, yang pasti meningkatkan kemampuan fisiknya,” kata Sutokit.

Tidak heran, persiapan yang matang sejak belia itu mengantarkan Arshya lolos Akpol di tahun pertama mendaftar. Selain itu, Arshya selalu berpikir positif dan meningkatkan kemampuan diri tanpa terganggu dengan berbagai faktor luar.

”Dia selalu melakukan semuanya secara maksimal dan hasil apa pun yang didapatkan sudah diserahkan atas kehendak Tuhan. Tidak ada penyesalan atas semua usaha maksimal yang telah dilakukannya,” ucap Sutokit.

Kecerdasan Arshya diakui oleh orang tuanya. Arshya tidak hanya lolos seleksi Akpol, tapi juga diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) jalur tanpa tes atau Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP).

”Arsya dari dulu pintar akademiknya. Hal itu didukung juga dengan sistem pembelajaran yang diterapkan Smadatara, Arshya lolos SNBP Fakultas Kedokteran Unair,” ujar Sutokit.

Fakta itu menunjukkan kemampuan Arsyha begitu istimewa. Namun, menurut Sutokit, tanpa adanya dukungan dan bimbingan baik akademik maupun nonakademik dari pihak sekolah, tidak akan mengantarkan Arsyha hingga saat ini.

”Saya berterima kasih dengan bimbingan dan dukungan dari Smadatara. Saya bisa mengetahui perkembangan Arsyha, meski terpaut jarak yang jauh,” ungkapnya.

Kini, Galuh dan Arshya telah memulai perjalanan menuju cita-cita yang sudah lama mereka perjuangkan. Mereka ditempa menjadi seorang anggota kepolisian yang tangguh di Akpol Semarang.

Kisah perjuangan mereka bukti dengan keteguhan hati, dedikasi, dan kerja keras, impian sebesar apa pun dapat diraih, meskipun jalan yang dilalui penuh liku dan tantangan. (abi/c1)

 

Editor : Niklaas Andries
#Kebanggaan #akpol #alumni #akademi kepolisian #toefl #Smadatara Banyuwangi #polda jawa timur #keluarga