Pelepasan KKN reguler dilakukan oleh Rektor IAI Ibrahimy Dr H Lukman Hakim SAg MHI di Kantor Kecamatan Glagah, Rabu (17/7). Mahasiswa yang mengikuti KKN ini, jumlahnya mencapai 311 mahasiswa.
“KKN kolaboratif dimulai sejak Selasa (2/7), dengan UGM ada 24 mahasiswa di Kecamatan Wongsorejo dan Rogojampi, 14 mahasiswa KKN kolaboratif bersama UNIB di Jember. Untuk KKN regular yang diterjunkan hari ini (17/7), berjumlah 273 mahasiswa yang tersebar di 17 desa yang ada di tiga kecamatan,” ungkapnya.
Menurut Lukman, tahun lalu KKN IAI Ibrahimy mengangkat tema ekonomi pedesaan dan kesadaran lingkungan. Untuk tahun ini, LPPM IAI Ibrahimy mengusung tema ketahanan keluarga. “Ini sangat penting, mengingat Banyuwangi itu kabupaten dengan tingkat perceraian tertinggi nomor dua setelah Malang,” cetusnya.
Mahasiswa yang mengikuti KKN, jelas dia, telah mendapatkan pembekalan pada Selasa (25/6) lalu, dan diberi waktu dua minggu untuk melakukan observasi di desa-desa yang dituju.
“Tema ketahanan keluarga dipilih karena bersifat universal dan relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, ada lima indikator yang kami gunakan dalam observasi dan program di setiap desa,” kata Ketua KKN IAI Ibrahimy Genteng, Abdul Aziz.
Hasil observasi itu, terang dia, menjadi dasar bagi para mahasiswa dalam merancang program yang tepat untuk di setiap desa. Sebagai contoh di Desa/Kecamatan Blimbingsari ditemukan permasalahan terkait perempuan. “Mahasiswa di sana memiliki program pendirian lembaga yang menangani kekerasan anak dan perempuan,” jelasnya.
Dengan adanya lembaga tersebut, terang dia, diharapkan dapat melindungi hak-hak perempuan setelah masa KKN berakhir. Program ini menunjukkan kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu sosial di lingkungan sekitarnya. “Ketika mahasiswa KKN selesai, ada lembaga yang masih bisa melindungi hak perempuan,” katanya.
Azis menyebut, tujuan dari KKN ini mengajarkan mahasiswa mengabdi dan memahami setiap lingkungan masyarakat memiliki permasalahan yang berbeda-beda. Mereka diajarkan untuk menyelesaikan masalah di masyarakat dengan bijak.
“Mahasiswa bisa tahu setiap wilayah memiliki masalah masing-masing, sehingga mahasiswa peka terhadap permasalahan di lingkungan sekitar,” tandasnya.(rei/abi)
Editor : Niklaas Andries