Kepala Smadatara, Mujib mengatakan, di hari pertama MPLS para siswa dikenalkan dengan jajaran guru, pengasuh, dan pembina ekstrakurikuler. Dalam acara ini juga diadakan deklarasi anti perundungan. “Seluruh warga sekolah sepakat zero bullying, tidak ada kekerasan fisik maupun verbal,” ujar Mujib.
Pembukaan MPLS di Smadatara, diikuti secara langsung dan online via zoom bersama PJ Gubernur Jatim Adhy Karyono dan Dinas Pendidikan Jatim yang dipusatkan di SMKN 5 Surabaya.
Sebelum kegiatan ini dimulai, Mujib menyematkan tanda peserta kepada taruna TB6 sebagai simbol dimulainya kehidupannya di Smadatara. “Kami sosialisasikan peraturan kehidupan taruna (perduptar) yang sudah dibedah dan disampaikan ke wali murid,” katanya.
Program ini, lanjut Mujib, bertujuan menyadarkan siswa agar mematuhi peraturan yang telah ditetapkan sejak kelas 10 hingga kelas 12. Pengawasan melekat oleh guru dan pengasuh, menjadi bagian penting dari sistem ini. “Kami sosialisasikan perduptar untu ditaati oleh para taruna dan taruni,” jelasnya.
Selain itu, kata Mujib, deklarasi anti bullying dilaksanakan untuk menegaskan komitmen seluruh warga sekolah. Sistem pengawasan oleh guru dan pengasuh diperketat untuk memastikan aturan ditaati. “Sebanyak 245 siswa membuat poster anti bullying sebagai bentuk komitmen zero bullying di sekolah,” katanya.
Mujib berharap, deklarasi anti bullying ini dapat mewujudkan lingkungan yang kondusif dan damai di Smadatara. Deklarasi anti perundungan ini diharapkan dapat menghindarkan kegiatan atau tindakan perundungan baik fisik maupun verbal.
“Pesan saya pada taruna dan taruni yang sudah mendeklarasikan anti bullying supaya diperhatikan dengan baik,” pintanya.
Lingkungan yang bebas dari kekerasan, terang dia, akan menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi para taruna dan taruni.
Tidak ada kekhawatiran terkait tindak bullying. “Sehingga memiliki lingkungan jauh dari kekerasan dan jauh dari kejahatan,” lanjutnya.
Mujib dan jajarannya terus berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua siswa.
Dukungan dari semua pihak, termasuk orang tua dan guru, sangat diharapkan untuk keberhasilan program ini. “Sehingga tercipta lingkungan yang baik dan nyaman untuk belajar bagi para taruna taruni,” tuturnya.
Salah satu taruna asal Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan, Petrus Otto Geisler Yaluwo mengaku sangat senang dengan statusnya menjadi taruna Smadatara.
Dia senang adanya deklarasi sekolah anti perundungan di Smadatara. “Saya senang, dengan adanya deklarasi ini tidak akan ada perundungan,” cetusnya.(rei/abi)
Editor : Niklaas Andries