Hal itu disampaikan Kacabdin Pendidikan Jawa Timur Wilayah Banyuwangi Ahmad Jaenuri Selasa (9/7). Dia mengatakan, rata-rata lulusan SMK yang terserap di dunia kerja mencapai 65–75 persen.
Bahkan, ada beberapa sekolah yang angkanya berada di atas 85 persen seperti SMKN 1 Glagah dan SMKN Darul Ulum.
”Angka ini sebenarnya di atas ekspektasi kami. Prestasi ini menjadi wujud tanggung jawab kami untuk menciptakan lulusan SMK yang bisa dengan cepat diserap di dunia kerja,” papar Jaenuri.
Kesuksesan yang diraih SMK negeri di Banyuwangi merupakan penerapan atau implementasi dari Inpres Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK. Langkah konkret penerapan Inpres tersebut, SMK di Banyuwangi terus melakukan sinkronisasi kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan pasar.
Untuk mendorong keberhasilan tersebut, Cabang Dinas Pendidikan juga menggandeng dunia usaha dan industri. ”SMK kita bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Seperti PT INKA, PT Bumi Rojo Koyo, PT Jagonya Ayam Indonesia (JAI), perusahaan eksploitasi mineral, dan PT Medco,” imbuh Jaenuri.
Dikatakan Jaenuri, kerja sama dengan industri besar secara tidak langsung bisa menyerap tenaga kerja dari lulusan SMK yang semakin tinggi. Di sisi lain, SMK negeri juga harus menunjukkan kualitasnya. Salah satunya dengan menyesuaikan kurikulum mereka.
”Kami bersama MKKS berkolaborasi untuk menciptakan program yang kompeten untuk para siswa,” terangnya.
Di samping itu, Cabang Dinas Pendidikan juga mendorong SMK untuk membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Saat ini sudah ada lima SMK yang membentuk BLUD, yaitu SMKN 1 Glagah, SMKN 1 Banyuwangi, SMKN Darul Ulum, SMKN Kalibaru, dan SMKN Kalipuro. Lima sekolah tersebut bisa memasarkan sendiri produknya yang bisa diserap oleh pasar.
Saat ini, Cabang Dinas Pendidikan tengah mendorong SMKN 1 Tegalsari untuk bisa membentuk BLUD. Ke depan diharapkan bisa terus mendorong penyerapan tenaga kerja dari lulusan SMK di Banyuwangi.
Program revitalisasi SMK bisa membantu Pemkab Banyuwangi agar tidak ada lagi lulusan sekolah yang menganggur.
BLUD memberikan sekolah layanan pengembangan teaching factory sehingga sekolah bisa menghasilkan produk yang bisa dijual.
”Kami sedang membuka kerja sama dengan PT Surabaya Sumber Utama terkait kendaraan listrik,” pungkas Jaenuri. (fre/aif/c1)
Editor : Niklaas Andries