Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Prodi Kesehatan Masyarakat FIKKIA Universitas Airlangga: Dosen dan Mahasiswa Bergerak Tangani Lonjakan Kasus DBD

Gareta Yoga Eka Wardani • Sabtu, 29 Juni 2024 | 10:30 WIB
PASCA PRESENTASI: Peserta Seminar berfoto bersama di Kantor Desa/Kecamatan Rogojampi pada Selasa (28/5).
PASCA PRESENTASI: Peserta Seminar berfoto bersama di Kantor Desa/Kecamatan Rogojampi pada Selasa (28/5).

Radarbanyuwangi.id - Kasus DBD di Banyuwangi yang meningkat tajam, membuat mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (Unair) bergerak dengan menggelar Semarak Indonesia Belajar Pasca Amati Jentik (Seminar). Acara itu, diikuti oleh para mahasiswa dan dosen.

Dosen Epidemiologi FIKKIA Unair, Ayik M. Mandagi mengatakan, prevalensi DBD di Jawa Timur hingga akhir Mei 2024, tercatat tertinggi kedua setelah Jawa Barat.

Berdasarkan hasil surveilans dari Dinas Kesehatan Banyuwangi, prevalensi DBD tertinggi berada di wilayah kerja Puskesmas Gitik, Kecamatan Rogojampi. “Pada April-Mei 2024, ada 49 kasus dengan tiga kematian,” ujarnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Dalam melaksanakan pengabdian masyarakat ini, Ayik menyampaikan melibatkan dosen Gizi Kesehatan Masyarakat, Septa Indra P, dan dosen Promosi Kesehatan, Jayanti Dian, dan para mahasiswa.

Selain itu, juga bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Banyuwangi dan Puskesmas Gitik. “Kami telah diberi 100 bubuk abate oleh ibu Kapus (Kepala Puskesmas), juga bantuan pak RT dan kader, kami membagikan secara door to door sambil memeriksa jentik di setiap rumah,” terangnya.

Inspeksi ini dilakukan dengan cara observasi jentik nyamuk pada tempat-tempat yang menjadi perindukan nyamuk (breeding places). Observasi yang dilakukan bersama tiga mahasiswa dan ketua RT di Desa/Kecamatan Rogojampi ini, pada 45 rumah di Dusun Prejengan dan 35 rumah di Dusun Jagalan pada Selasa (28/5).

Hasilnya, dilaporkan dalam Seminar di Kantor Desa Rogojampi pada Senin (3/6). “Kami memeriksa bak mandi dan wadah berisi air, mencatat hasil, dan membagikan bubuk abate pada rumah yang terindikasi jentik saat Seminar,” jelasnya.

Hasil observasi menunjukkan Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 85,72 persen di Dusun Jagalan, dan 82,2 persen di Dusun Prejengan. Kedua dusun itu masih di bawah standar ABJ yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI, yaitu 95 persen. “Ini menandakan banyak rumah yang belum bebas dari jentik nyamuk,” lanjutnya.

Dari pengamatan di Dusun Jagalan yang dilakukan pada 35 rumah, jelas dia, ada lima rumah positif memiliki jentik. Hasil perhitungan diperoleh House Index (HI) sebesar 14,28 persen, Container Index (CI) sebesar 14,28 persen, Breteu Index (BI) sebesar 15 persen. Sehingga diperoleh Density Figure sebesar 3,6,” terangnya.

Ayik menambahkan, pengamatan juga dilakukan di Dusun Prejengan dengan 45 rumah yang hasilnya, delapan rumah positif memiliki jentik. Hasil perhitungan diperoleh HI sebesar 17,7 persen, CI sebesar 13,7 persen, BI sebesar 17,7 persen  dengan Density Figure juga 3,6.

“Artinya kedua dusun masuk ke zona kuning, yakni derajat penularan penyakit oleh larva berukuran sedang, sehingga perlu diwaspadai,” tandasnya.

Menurut Ayik, fogging hanya untuk membunuh nyamuk dewasa, untuk memusnahkan telur dan larva hanya bisa dengan 3M Plus. Ia mengingatkan perbaikan lingkungan dan selalu meningkatan daya tahan tubuh, dan pengobaan sedini mungkin saat inkubasi virus dengue sudah dilalui.

“Gerakan 4M, artinya 3M dan memantau keberadaan jentik nyamuk serta Plus, yaitu memusnahkan tempat perindukan nyamuk sebagai vektor dengan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk),” tandasnya.(rei/abi)

 

Editor : Niklaas Andries
#universitas airlangga #dbd #dinas kesehatan #4m #Demam Berdarah (DBD) #Fakultas Ilmu Kesehatan #banyuwangi #Fogging #jentik