Puluhan peserta mengikuti kegiatan fasilitasi tersebut. Di antaranya koordinator kelompok belajar (pokjar) sanggar kegiatan belajar negeri (SKBN) sebanyak 25 orang, tutor 65 orang, dan operator sebanyak 26 orang.
Kepala Dispendik Suratno mengatakan, fasilitasi tersebut ditujukan bagi anak yang putus sekolah, anak tidak sekolah (ATS), atau bahkan belum sekolah.
Tujuannya untuk meningkatkan angka lama sekolah dan meningkatkan angka rata-rata lama sekolah.
Menurut Suratno, hal tersebut perlu terus diperbaiki karena dinilai sangat erat kaitannya dengan indeks pembangunan manusia (IPM) di Banyuwangi.
”Kegiatan ini diadakan tidak hanya memberikan fasilitasi dalam sharing saja, namun ada juga grup diskusi di masing-masing pokjar yang di dalamnya ada koordinator, tutor, dan operator untuk menyusun program bagaimana mengatasi ATS,” ujarnya.
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dispendik Lina Kamalin menjelaskan, fasilitasi tersebut merupakan bentuk diseminasi program USAID Erat yang sebelumnya telah digelar di Kecamatan Muncar dan Glenmore.
Dari program fasilitasi tersebut, pihaknya ingin mencapai kembalinya para ATS untuk dapat mengenyam pendidikan.
”Untuk menyelesaikan jumlah ATS yang ada sekarang memang harus berproses. Namun, saya yakin setiap harinya ada progres baru yang terus naik untuk ATS agar kembali belajar,” kata Lina.
Kegiatan fasilitasi tersebut dibuka langsung oleh Sekretaris Dispendik Alfian. Setelah kegiatan dibuka, Alfian juga sekaligus mengisi materi sesi pertama terkait bagaimana mengajak kembali anak tidak sekolah agar dapat mengenyam pendidikan kembali.
Menurut Alfian, penting memahami bahwa tidak semua ATS tersebut putus sekolah akibat perlu santunan dan dana yang mencukupi.
Dia mengaku, bisa jadi ada salah satu faktor tertentu seperti kurangnya motivasi sehingga ATS tersebut enggan untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi.
”Penanganan ATS memang tidak bisa disamaratakan atau dipukul rata karena ekonomi. Para koordinator juga harus banyak memahami bahwa banyak sekali faktor lain. Salah satunya motivasi yang kurang mungkin akibat orang sekitar yang kurang mencukupi faktor tersebut, dan kita perlu hadir untuk melengkapi,” ujar Alfian.
Dalam kegiatan tersebut, Alfian juga meminta kepada kepala Satuan Pendidikan Koordinator Wilayah (Satdikkorwil) yang hadir untuk memaksimalkan program home visit.
Karena menurutnya, program home visit tidak hanya baik bagi seluruh siswa, namun para guru yang ada juga dinilai akan memahami bagaimana kondisi lingkungan siswa dan lebih mudah menanganinya.
”Jangan hanya ketika ada masalah, home visit baru dilakukan. Jika dilakukan saat tahun ajaran baru, atau rutin tiap minggu sekali, itu bagus. Karena jika terjadi kendala apa pun, guru sudah mengerti latar belakang siswa dan diharapkan lebih cepat mendapat solusi,” tutur Alfian.
Materi kedua disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono.
Dalam kesempatan tersebut, Sulihtiyono memberikan arahan terkait dampak ATS yang sangat besar bagi kemajuan daerah. Salah satunya terkait penurunan IPM yang cukup signifikan.
Selain itu, imbuh Sulihtiyono, ATS berpotensi mengakibatkan ekonomi masyarakat yang rendah akibat SDM yang kurang terdidik.
”Makanya, perlu ditanamkan pemahaman terkait pentingnya mencari ilmu kepada para ATS, bukan hanya mengejar ijazah semata,” tandasnya. (tar/sgt/c1)
Editor : Niklaas Andries