Pernyataan itu disampaikan Dr H Ahmad Munib Syafaat Lc MEI dalam Dialog Kebangsaan bertema, Memperkuat Kebersamaan Antar Iman untuk Membangun Umat yang Sejahtera di kampus 2 UIMSYA, Desa Karangmulyo, Kecamatan Tegalsari pada Jumat (22/3).
“Agama itu untuk menciptakan kedamaian,” cetus Gus Munib, sapaan Dr H Ahmad Munib Syafaat Lc MEI.
Dialog Kebangsaan yang dirangkai dengan buka bersama itu, juga hadir sebagai narasumber ketua Badan Musyawarah Antara Gereja (Bamag) Banyuwangi, Pdt Anang Sugeng Sulis Tyanto STh MTh dan Duta Hindu Dharma Provinsi Jatim, Drs Joko Setioso.
“Peran tokoh agama tidak hanya dalam bidang keagamaan, tapi juga bidang lain seperti ekonomi, budaya, sosial, pembangunan, dan lainnya,” kata Gus Munib.
Menurut Gus Munib, toleransi beragama di Indonesia, terutama di daerah Kabupaten Banyuwangi itu sangat tinggi. Kebersamaan umat antar iman, selama ini telah terjalin dengan baik.
“Kebersamaan ini perlu diperkuat demi membangun umat yang sejahtera dan berkeadilan,” cetusnya.
Gus Munib mengaku tidak setuju dengan istilah minoritas dan dan mayoritas umat beragama dengan melihat dari jumlah umatnya. Karena agama bukan masalah kuantitas, tapi berhubungan dengan kualitas.
“Minoritas dan mayoritas itu masalah peran yang dilakukan, meski jumlah umatnya sedikit tapi perannya sangat besar dalam pembangunan, maka agama itu mayoritas,” ungkap Gus Munib yang sedang digadang-gadang menjadi Calon Bupati (Cabup) Banyuwangi itu.
Narasumber lain, Pdt Anang Sugeng Sulis Tyanto STh MTh dalam paparannya menyatakan, perbedaan itu rahmat. Umat beragama harus bisa memahami agamanya dengan baik.
“Tidak ada agama yang membolehkan penganutnya berbuat jahat,” cetusnya.
Pdt Anang menyampaikan, kebersamaan dan kerjasama umat antar iman, itu dianggap sangat penting. Untuk membangun, tidak bisa berjalan sendiri, tapi harus dilakukan secara bersama-sama.
“Yang berbeda itu jangan disamakan, dan yang telah sama jangan dibedakan,” katanya.
Duta Hindu Dharma Provinsi Jatim, Drs Joko Setioso menyampaikan, toleransi umat beragama di Kabupaten Banyuwangi itu sangat tinggi.
“Di Kabupaten Banyuwangi ini hampir tidak ada konflik antar umat beragama,” ujarnya.
Tanpa ada konflik antar umat beragama ini, jelas dia, menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam beragama.
Hanya saja, umatnya yang minoritas dan banyak terlibat dalam kegiatan, masih kurang mendapat perhatian. “Kami siap duduk bersama layaknya saudara,” cetusnya.
Dengan nada serius, Joko menyampaikan, KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur mengatakan dengan saudara itu harus ada kesesuaian antara pikiran, ucapan, dan perbuatannya. “Gus Dur itu inspirasi saya dalam membangun umat,” ungkapnya.(abi)
Editor : Niklaas Andries