Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Perkuat Arahan Bupati Banyuwangi, Stikes Uji Makanan Takjil Ramadan

Ayu Lestari • Kamis, 21 Maret 2024 | 16:29 WIB
SEMANGAT: Mahasiswa Stikes Banyuwangi mengisi RIC 2024 dengan berbagi takjil
SEMANGAT: Mahasiswa Stikes Banyuwangi mengisi RIC 2024 dengan berbagi takjil

Radarbanyuwangi.id – STIKES Banyuwangi menjadi salah satu instansi yang menindaklanjuti arahan Bupati Ipuk Fiestiandani berkaitan pasar takjil Ramadan.

Orang nomor satu di lingkup Pemkab Banyuwangi itu meminta para camat berkoordinasi dengan instansi kesehatan untuk melakukan pemeriksaan makanan dan minuman yang dijual di pasar takjil Ramadan secara berkala.

Untuk memastikan makanan yang dijual di pasar takjil Ramadan dalam keadaan bersih dan sehat, para mahasiswa, dosen Program Studi (Prodi) S-1 Gizi, serta dosen Prodi DIV TLM (Teknologi Laboratorium Medis) Stikes Banyuwangi melakukan pengabdian masyarakat (pengmas) dengan terjun ke lapangan dan melakukan uji lab makanan yang dijual pedagang selama Ramadan.

Dosen Prodi S-1 Gizi Mulya Agustina SGz MSi mengatakan, dalam kegiatan pengmas tersebut pihaknya melakukan dua cara untuk mengetahui makanan dan minuman yang diuji memiliki kualitas bersih dan sehat.

Yang pertama, dengan menggunakan uji indra atau sensori yang merupakan cara pengujian dengan menggunakan penglihatan manusia sebagai alat utama untuk menilai produk.

”Kita dapat melihat makanan tersebut apakah memiliki bentuk yang sempurna atau tidak, warnanya apakah terlalu mencolok atau tidak. Warna makanan yang terlalu mencolok patut kita hindari karena penggunaan bahan tambahan pangan (BTP) yang berlebih, kemasan yang rusak menandakan makanan tersebut sudah terkontaminasi,” ujarnya.

Selanjutnya, yakni pembau. Mulya menyebut pembeli dapat mengetahui apakah makanan dan minuman tersebut aman apabila tidak ada bau yang tidak sesuai, seperti bau asam, tengik, atau pun bau busuk yang menandakan makanan tersebut sudah rusak.

Ada pula peraba, tekstur makanan itu sangat khas, contohnya nasi.

Nasi yang bagus memiliki tekstur yang kokoh dan kering.

Foto 3 EDUKASI DINI: Tim mahasiswi Prodi S-1 Gizi dan DIV TLM Stikes saat terjun ke lapangan untuk melakukan uji makanan yang dijual pedagang selama Ramadan.
Foto 3 EDUKASI DINI: Tim mahasiswi Prodi S-1 Gizi dan DIV TLM Stikes saat terjun ke lapangan untuk melakukan uji makanan yang dijual pedagang selama Ramadan.

Jika nasi sudah pecah dan berlendir menandakan nasi tersebut sudah rusak atau basi.

”Bisa juga dari indra pengecap. Hal ini berkaitan dengan kepekaan rasa, apabila kita mengonsumsi makanan yang masih segar dan baik, cita rasa asam, basi, dan lain-lain tidak akan muncul,” jelas Mulya.

Pihaknya berkolaborasi dengan Prodi DIV TLM dalam pengmas kali ini untuk melakukan pengujian laboratorium.

Seperti penjelasan di atas, makanan yang sehat dan bersih yakni tidak mengandung pengawet. Salah satu pengawet yang dapat diuji adalah boraks.

”Pengujian di laboratorium dapat menjadi acuan apakah makanan tersebut mengandung zat berbahaya atau tidak,” jelas Mulya.

Menurutnya, makanan yang sehat adalah makanan yang mengandung zat gizi dalam jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip keanekaragaman pangan.

Syarat makanannya yakni bergizi seimbang (ada karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral).

”Kebersihan tentu saja menjadi salah satu faktor penting dalam konsumsi makanan. Makanan yang sehat tentu yang tidak mengandung pengawet atau bahan tambahan pangan lain yang memiliki risiko berbahaya untuk kesehatan. Contohnya pewarna ataupun perisa yang tidak sesuai dengan standar keamanan pangan,” kata  Mulya.

Selain itu, faktor personal hygiene dari pembuat makanan juga sangatlah penting karena kontaminasi dari penjamah makanan dapat menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan.

Menurut Mulya, sanitasi lingkungan seperti saat memasak dan menyajikan makanan juga perlu diperhatikan untuk memberikan makanan yang bersih.

”Saat makanan yang disajikan di ruang terbuka seperti pasar takjil, sangat dianjurkan dalam keadaan tertutup rapat untuk menghindari adanya kontaminasi,” imbuh Mulya.

Ketua Stikes Banyuwangi Dr H Soekardjo menambahkan, pengmas ini diharapkan menjadi salah satu indikasi agar masyarakat dijauhkan dari BTP yang berbahaya bagi tubuh.

Menurutnya, masyarakat sangat layak mendapatkan makanan dengan gizi seimbang. Tidak hanya mkanan enak dan murah, namun tentu kualitas yang cukup dan tidak merugikan tubuh.

”Harapan kami ke depan bisa terus menyuarakan pentingnya gizi seimbang bagi masyarakat. Ke depannya semoga lebih banyak lagi tenaga ahli gizi yang diberdayakan, tentu untuk masyarakat Banyuwangi yang lebih baik,” tandas Soekardjo. (tar/sgt/c1)

 

Editor : Niklaas Andries
#stikes banyuwangi #Bupati Banyuwangi #pemkab banyuwangi #pengawet #btp #gizi #Gizi Seimbang #pasar takjil ramadan #bahan tambahan pangan #prodi #ramadan