Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

As’ad Humam Kreator Buku Iqro, Guru Ngaji Pembebas Buta Aksara Al Quran di Indonesia dan Dunia

Niklaas Andries • Senin, 18 Maret 2024 | 19:05 WIB

MELEGENDA: Buku Iqro karya As
MELEGENDA: Buku Iqro karya As
Radarbanyuwangi.id – Apa yang paling diingat saat masa mengaji dulu? Guru ngajinya, teman sebaya, ataukah jajanan yang ada di sekitar Taman Pendidikan Quran (TPQ) yang biasa dijajakan disana.

Ya, boleh jadi itu merupakan seabrek kenangan saat menjalani aktivitas mengaji. Tapi selain kenangan itu semua, ada satu buku yang turut menjadi perjalanan mengaji khususnya bagi generasi 90an kala itu.

Benar, buku Iqro namanya. Buku yang disusun berjilid ini menjadi literatur dan pegawangan wajib bagi santri saat mengaji di TPQ. Tidak hanya dulu, buku berukuran kecil ini bahkan masih digunakan sampai sekarang.

Bahkan ketenaran buku ini tidak hanya populer di Indonesia saja. Metode dan penggunaan pengajaran soal huruf Al Quran didalamnya juga digunakan santri di beberapa negara. Malaysia, Singapura, Filipina, Brunei Darussalam, Eropa, bahkan Amerika juga menggunakan buku ini.

Yang paling ketara dari buku ini adalah sampulnya. Seorang lelaki berkacamata dengan paras kurus memakai jas hitam dan peci menjadi latar buku tersebut. Pertanyaannya siapakah dia ?

Prian dalam sampul buku Iqro itu adalah Almarhum As’ad Humam, pria asal Selokraman, Kotagede, Yogyakarta kelahiran tahun 1933. Dia merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara yang dibesarkan di lingkungan Muhammadiyah.

Dilansir laman Muhammadiyah, Mitsuo Nakamura dalam The Crescent Arises over the Banyan Tree (2012) mencatat As’ad Humam menempuh pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Kleco, SMP Negeri di Ngawi, dan pendidikan SMA di Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.

Sayangnya saat menimba ilmu di Mu’allimin, As’ad Humam yang berhenti di kelas II. Insiden kecelakaan yang dia alami saat memanjat pohon pada tahun 1963 menjadi penyebabnya. Dia mengalami pengapuran tulang belakang dan harus dirawat setengah tahun.

Lehernya tidak bisa digerakkan dan untuk berjalan, As’ad mesti menggunakan tongkat sebagaimana yang nampak dalam posenya di sampul buku Iqro’. As’ad juga sempat belajar di pondok pesantren Al-Munawir Krapyak milik Nahdlatul Ulama selama dua tahun.

Bahkan dalam keseharian, salatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus tanpa bisa melakukan posisi ruku ataupun sujud. Saat menengok As’ad Human harus membalikkan seluruh tubuhnya..

Dalam kondisi tersebut, As’ad Humam tidak patah semangay. Bersama Jazir Asp dan dibantu oleh Tim Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Mushola (AMM) Yogyakarta, dia mendirikan TK Alquran AMM Yogyakarta pada 16 Maret 1986.

Momentum pendirian TK Alquran AMM inilah yang kemudian mengilhami pendirian Taman Pendidikan Alquran AMM, Ta’limuq Quran Lil Aulad AMM, dan kursus Tartilil Quran AMM.

Tahun 1988, di tempat tinggalnya di Kampung Selokraman, Kotagede, didirikan Taman Kanak-kanak Alquran (TKA) untuk anak usia 4-6 tahun. Setahun berikutnya didirikan Taman Pendidikan Alquran (TPA) untuk anak usia 7-12 tahun.

Dari sini awalnya Iqro’ menyebar dengan cepat sehingga banyak digunakan di banyak tempat. Iqro’ memudahkan cara pembelajaran Alquran dasar menjadi lebih efektif dibandingkan dengan metode lama seperti Baghdadiyah yang harus mengeja antara huruf, bunyi, dan harakat.

Iqro yang terdiri dari enam jilid tidak lagi dieja. Metode ini menyajikan cara baca dengan sistem (suku) kata. Mula-mula dipilih kata-kata yang akrab dan mudah bagi anak-anak, seperti “ba-ta”, “ka-ta”, “ba-ja”, dan sebagainya.

Setelah itu baru kemudian dengan kata yang lebih panjang. Lalu kalimat pendek, dengan mempelajari kata yang ada di dalam surat-surat pendek. Semuanya disajikan dengan sederhana sehingga yang belajar khususnya anak-anak bisa mudah mempelajarinya.

Buku Iqro’ memiliki 10 sifat yaitu bacaan langsung. Ini membuat santri menjadi aktif, dapat diajarkan privat atau klasikal. Didalamnya tersedia modul, asistensi, praktis, sistematis, variatif, komunikatif, dan fleksibel.

Sistem Iqro’ tahun 1988 mendapatkan pengakuan dari Menteri Agama sehingga kemudian didistribusikan secara nasional pada tahun 1992.

Tidak hanya jaringan masjid dan Muhammadiyah. Buku Iqra juga digunakan jaringan masjid dan Nahdlatul Ulama yang turut berjasa dalam mengenalkan metode ini secara luas.

Bahkan, pemerintah Malaysia mengadopsi metode Iqro’ secara resmi di akhir 1990-an. Dari sinilah buku ini melanglang buana dan digunakan di beberapa negara seperti Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, bahkan Amerika. As’ad Humam meninggal dunia pada Hari Jumat, 2 Februari 1996. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#TPA #taman kanak-kanak #eropa #nadhlatul ulama #Mu'alimin #al quran #tongkat #Kotagede #arab #Aksara #malaysia #Taman Pendidikan Quran #meninggal dunia #TPQ #thailand #amerika #yogyakarta #filipina #Brunai Darussalam #huruf #buta #muhammadiyah #Taman Pendidikan Alquran #iqro